Analisis Persepsi dan Emosi Publik Terhadap Penanganan #COVID19 Oleh Pemerintah (7-13 Maret 2020)

Oleh Ismail Fahmi

Apa yang menjadi persepsi dan emosi terbesar publik terkait #COVID19 yang harus dijadikan pertimbangan pemerintah?   Ketakutan dan kepanikan (fear) atau kepercayaan (trust)?   Ini analisis #DroneEmprit untuk data seminggu terakhir tentang relasi pemerintah dan isu corvid19.

DATA SETTING  Kita ingin melihat opini publik ttg #Corvid19 yang khusus terkait pemeritah (daerah dan pusat).  Keyword: pemerintah, indonesia, pemprov, gubernur, wali kota, kabupaten, propinsi  Filter: corona, virus, covid19, covid-19, coronavirus, viruscorona.

TREND  Dalam seminggu terakhir, tren percakapan dan pemberitaan cenderung naik baik di media sosial Twitter maupun media online.  Puncaknya tanggal 13 Maret, namun diproyeksikan lebih tinggi di 14 Maret (hari ini).

VOLUME   Total percakapan yang sesuai dengan setting data sebesar 368K di Twitter dan 36K di Media Online.

TOP 5 INFLUENCER  Untuk topik ini, akun-akun media menjadi top influencer. Menjadi sumber berita yang banyak dishare. Di antaranya: @CNNIndonesia, @detikcom, dan @TirtoID.  Dua top influencer berikutnya dari individual, seperti @whtvrcrzy dan @dirgarambe.  

TOP 50 INFLUENCER  Daftar lebih lengkap bisa dilihat di tabel ini.   Yang menarik, akun kementerian kesehatan Malaysia @KKMPutrajaya mendapat interaksi yang lebih tinggi dari pada @KemenkesRI.   Memang "information leadership" kemenkes Malaysia cukup tinggi di media sosial.

EMOTION ANALYSIS  Sekarang kita analisis emosi publik, menggunakan model dari "Plutchik's Wheel of Emotions."  Menurut model ini, emosi bisa dibagi 8: joy, trust, fear, surprise, sadness, disgust, anger, dan anticipation.

LEXICON BASED ANALYSIS  Untuk mengelompokkan percakapan publik ke dalam emosi yang dikandungnya, Drone Emprit menggunakan metode berbasis "lexicon."  Untuk setiap kategori emosi, dibuat list kata yang masuk ke dalam kategori ini. Misal untuk "joy" ada "senang, bahagia, dll."

RESULTS  Output dari analisis ini berupa grafik tren emosi dari waktu ke waktu. Untuk data yang lengkap, saya tampilkan cut off hingga 13 Maret.   Dari tren ini tampak isu yang paling tinggi dari waktu ke waktu adalah masalah "TRUST".  Kemudian SURPRISE, ANGER, dan FEAR.

TRUST  Sejak awal periode, masalah trust ini yang paling tinggi. Hanya pada tanggal 9 Maret ada anomali dimana FEAR dan ANTICIPATION naik drastis mengalahkan TRUST. Namun setelah itu turun, dan FEAR tetap tertinggi.

MOST DOMINAN EMOTIONS  Secara aggregate, emosi yang paling dominan selama seminggu terakhir ini adalah:  - TRUST - SURPRISE - ANTICIPATION - FEAR - ANGER  Tampak bahwa FEAR (takut dan panik) bukan emosi yang paling dominan, tetapi TRUST.

Apa yang terjadi dengan "TRUST"?  Kita lihat bbrp narasi yang dominan terkait trust. Apa kondisi yang menyebabkan emosi ini:  - "percaya dengan konpers ... karena ... punya data yang akurat" - "tdk percaya cara ... mengangani.." - "tdk yakin ... dianggap tidak transparan"

2 JENIS TRUST  Dari narasi di atas, tampak ada dua jenis TRUST: - percaya kepada pemerintah - tidak yakin atau tidak percaya kepada pemerintah  Dibukanya data dan transparan ternyata lebih menimbulkan kepercayaan.   Apakah ini juga banyak menimbulkan ketakutan (FEAR)?

Sedangkan sikap tidak transparan ternyata menimbulkan DISTRUST.   Ditambah dengan cara penanganan yang kurang meyakinkan bagi publik, akan semakin menimbulkan ketidakpercayaan.

FEAR  Emosi FEAR ini sebernya di posisi ketiga. Namun untuk menjawab pertanyaan di atas, kita analisis dulu. Mengapa publik takut.  Beberapa sebab:
- "tidak adekuatnya tracing"
- "cepat penyebaran, tidak terkendali"
- "tolong ... transparansinya .. kemana aja"

PENYEBAB TAKUT  Dari narasi yg dominan di atas, publik jadi takut jk melihat: - penanganan yang tidak meyakinkan - situasi yg tampak tak terkendali - tidak transparan, tidak tahu keadaan di sekitarnya  Dibukanya peta sebaran bisa bikin takut jk otoritas tampak tak meyakinkan

SURPRISE  Tiba-tiba tingginya emosi surprise karena publik terkejut, tiba-tiba di Solo diyatakan KLB. Biasanya hanya Jakarta dan Jawa Barat yg dalam berita, keputusan Walkot Solo ini membuat terkejut.  Juga tingginya jumlah kematian DBD dibanding #COVID19 membuat terkejut.

ANTICIPATION  Emosi ini menandakan publik berharap, menyiapkan diri untuk masa depan.   Banyak harapan atau antisipasi disampaikan kepada masyarakat sendiri agar bisa menghadapi situasi ini dengan selamat, dan semakin sadar dan giat dlm menghadapi #covid19.

ANGER  Emosi marah bukan yang paling dominan, namun cukup tinggi (ranking 4) dari semua emosi.   Mengapa publik marah?  
- Berita hacking situs Corona @DKIJakarta bikin marah pendukung
- Aksi @aniesbaswedan membuka data mendapat kecaman
- Politisasi oleh buzzer dan pejabat

KESIMPULAN  

Dari emosi-emosi di atas, yang ingin kita lihat adalah emosi FEAR dan TRUST.   Dapat disimpulkan bahwa masalah utama yang dihadapi pemerintah adalah soal TRUST publik kepada mereka. Bukan soal FEAR atau kepanikan menghadapi data yang transparan.

Jika selama ini data tidak dibuka karena takut publik jadi panik (FEAR), temuan Drone Emprit ini memperlihatkan sebaliknya.   Bahwa dengan dibukanya data, akan menaikkan TRUST. Dan ditutupnya data, tidak transparan, akan menimbulkan DISTRUST, dan menyebabkan FEAR.

Sebagai konsekuensi dari temuan ini, yang perlu dibangun oleh pemerintah adalah "MEMBANGUN TRUST" karena ini prioritas emosi publik nomor satu.  Dan TRUST ini dibutuhkan agar terjalin kerjasama antara warga dan pemerintah dalam menghadapi pandemik. Tidak bisa bekerja sendiri.

Untuk membangun TRUST, perlu:  
- dibangun TRANSPARANSI informasi
- ditegakkannya protokol penanganan yg membuat yakin publik.

CLOSING  

Semoga analisis Drone Emprit ini bermanfaat dalam menentukan prioritas dan strategi aksi penanganan #COVID19 di Indonesia.  Kerjasama antara pemerintah baik di pusat, daerah, dan warga menjadi kunci keberhasilan kita bersama menghadapi situasi sulit ini.