Apa dan Siapakah Milenial di Mata Politik?

Oleh: Ayu Puspita Sari Ningsih

Masih banyak perbedaan pendapat mengenai siapa saja yang termasuk ke dalam Generasi Milenial, tetapi kata milenial sendiri tampaknya sudah menjadi metonimia untuk kata “pemuda” dalam dekade ini. Jika media atau publik perorangan menyebut kata milenial, maka bisa dipastikan mereka merujuk kepada golongan muda produktif. Dalam dunia politik, milenial adalah mereka yang muda, produktif, dan memiliki hak suara dalam pemilu.

Memperingati Sumpah Pemuda dalam tahun politik ini, Drone Emprit ingin mencari tahu apa dan siapakah Milenial dari sudut pandang politik, terutama dari sudut pandang pasangan Capres-Cawapres yang akan berlaga di Pemilu 2019 mendatang. Bagaimanakah kata Milenial dilekatkan pada calon pasangan? Konsep Milenial macam apa yang dibangun oleh setiap kubu? Drone Emprit akan berusaha menjawabnya dengan memakai kata kunci "milenial" dan nama masing-masing calon sebagai filter, yaitu “Jokowi”, “Ma’ruf Amin”, “Prabowo”, dan “Sandiaga". Pemantauan dilakukan di Twitter sejak masa kampanye pada 22 September 2018 hingga hari peringatan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2018.

DATA

Perbandingan Umum

Dari data hasil komparasi volume, kata milenial paling banyak dilekatkan pada twit yang juga menyebutkan nama Jokowi. Selama rentang pemantauan, kata milenial dan Jokowi disebutkan bersama sebanyak 17. 538 kali. Kata milenial disematkan dalam jumlah yang hampir sama pada nama Prabowo dan Sandiaga, dengan penyebutan kepada Prabowo sebanyak 12. 781 kali dan Sandiaga sebanyak 12.300 kali. Nama Ma’ruf Amin paling sedikit dikaitkan dengan kata milenial, hanya disebut sebanyak 1.469 kali selama rentang waktu kurang-lebih sebulan ini.

Hal yang sama juga terlihat di peta perbincangan SNA yang hanya menampilkan total retweet dari twit-twit yang melekatkan kata milenial pada masing-masing tokoh. Jokowi masih menjadi nama yang paling banyak dilekatkan dengan kata milenial, menyusul Prabowo, Sandiaga, dan terakhir Ma’ruf Amin.

Namun dari peta SNA dapat terlihat bahwa ada dua kluster yang terbentuk, dengan satu kluster lebih renggang daripada yang lainnya. Kluster yang lebih renggang tersebut memiliki key opinion leader seperti @RizmaWidiono dan @JajangRidwan19, dua akun yang selama ini dikenal sebagai akun pendukung petahana. Perbincangan dalam kluster ini pun merujuk kepada Jokowi dan Ma’ruf Amin.

Sementara kluster yang lebih padat hubungan perbincangannya memiliki key opinion leader yang dikenal sebagai pendukung oposisi, seperti @RajaPurwa dan @DahnilAnzar. Namun berbeda dengan kluster sebelumnya, selain memperbincangkan kata milenial dengan Prabowo dan Sandi, kluster ini terlihat juga memperbincangkan Jokowi.

Untuk melihat apa saja yang dibicarakan netizen Twitter tentang para tokoh dan konsep milenial terhadap mereka, kita akan coba lihat melalui twit-twit yang diterbitkan selama masa pemantauan. Twit-twit yang akan diperhatikan adalah twit-twit yang paling banyak dibagikan selama masa pemantauan. Twit berisi polling tidak akan dihitung karena polling sering kali tidak menyebutkan atribusi atau konsep terhadap suatu wacana.

Jokowi

Ada beberapa konsep milenial yang dilekatkan saat membicarakan tentang Jokowi. Konsep milenial pertama yang dilekatkan pada Jokowi adalah pemahaman terhadap global pop culture. Jokowi yang menggunakan istilah-istilah global pop culture dalam beberapa pidatonya, seperti penyebutan Thanos dan Avenger dalam pidato World Economic Forum (12/9), referensi terhadap Game of Thrones pada pidato IMF, dan referensi terhadap Star Trek pada IdeaFest (28/10) membuatnya dianggap memahami perkembangan pop culture para milenial.

Konsep milenial kedua yang diberikan kepada Jokowi adalah mengenai sikapnya yang terkesan milenial. Penampilan Jokowi yang santai dan tidak terlalu formal dianggap mewakili kaum milenial. Begitu juga dengan kemauannya belajar hal-hal yang sedang menjadi tren dalam kalangan milenial seperti game Mobile Legend.

konsep milenial ketiga yang diberikan pada Jokowi adalah sikap-sikap yang diharapkan diteladani oleh para milenial. Kata-kata sifat seperti cerdas, jujur, kreatif, inspiratif, kerja keras, dan merakyat digambarkan sebagai sifat Jokowi yang diinginkan oleh kaum milenial.

Prabowo

Untuk Prabowo, kata milenial tidak pernah secara langsung dilekatkan padanya seperti pada Jokowi. Dalam penyebutan kata milenial dan Prabowo, yang sering menjadi fokus justru adalah Cawapres pasangannya, Sandiaga Uno, dan juru bicara tim Prabowo-Sandi, Gamal Albinsaid.

Wacana yang dibangun untuk Prabowo adalah sebagai pemandu atau pembuka jalan bagi para milenial. Memilih Sandiaga dan Gamal adalah salah satu cara Prabowo untuk membukakan jalan tersebut. Selain itu konsep action juga banyak dilekatkan padanya, seperti saat Prabowo mengirimkan tim Milenial 08 untuk membantu di Palu atau saat Prabowo dikabarkan menemui kaum milenial.

Sandiaga

Sebagai tokoh yang secara usia paling muda, konsep milenial yang dilekatkan pada Sandi adalah keotentikan dan keaslian. Wacana yang dibentuk adalah bahwa Sandi merupakan perwujudan dari milenial itu sendiri yang unik dan tidak perlu dikotak-kotakkan dalam konsep aksi seperti yang dilakukan Jokowi.

Selain itu muncul juga beberapa konsep sifat dari Sandi yang dikategorikan sebagai sifat kaum milenial, seperti kreatif, pandai bergaul, inspiratif, namun tetap menghormati yang lebih senior darinya.

Ma’ruf Amin

Sama seperti Prabowo, kata milenial tidak pernah dilekatkan secara langsung pada Ma’ruf Amin. Dalam hal ini, nama Ma’ruf Amin lebih sering disebut sebagai pasangan Jokowi yang didukung oleh kaum milenial. Meski demikian ada juga wacana yang dibangun juga adalah bahwa meskipun Ma’ruf Amin “tidak milenial”, tetapi dia peduli dengan kaum milenial.

ANALISIS

Secara kuantitas semata Jokowi adalah tokoh yang paling sering dihubungkan dengan kata milenial. Nama Jokowi menjadi perbincangan di kedua kubu, terlepas dari sentimen dari pembicaraan tersebut. Berbeda dengan nama Prabowo atau Sandi yang hampir tidak dibicarakan oleh pendukung Jokowi. Nama Jokowi juga mendominasi dalam kubu pendukungnya sendiri, dengan pembicaraan tentang Ma’ruf Amin yang sangat sedikit. Hal ini berbeda dengan kubu oposisi yang membicarakan Prabowo dan Sandi dalam jumlah yang relatif sama hingga perbincangan dalam kubu mereka bisa terlihat lebih banyak dari perbincangan di kubu Jokowi-Ma’ruf Amin. Jadi jika ditanya mengenai frekuensi nama pasangan disebut dengan kata milenial, pasangan Prabowo-Sandi yang lebih banyak dihubungkan dengan kata tersebut.

Dari data di atas dapat dilihat bahwa hanya Jokowi dan Sandi yang sering dilekatkan dengan kata milenial. Prabowo dan Ma’ruf Amin yang secara usia juga tidak bisa lagi mengaku sebagai milenial lebih dibangun perannya sebagai pemandu dan pemerhati kaum milenial. Namun wacana untuk Prabowo dibangun dalam bentuk aksi, seperti aksinya mengirimkan tim Milenial 08 dan menemui kaum milenial. Sementara Ma’ruf Amin baru sebatas pernyataan bahwa dia peduli pada generasi mendatang.

Dua tokoh yang namanya kerap dilekatkan dengan kata milenial pun dibangun dengan dua konsep milenial yang berbeda. Meski juga tidak lagi masuk ke dalam kategori milenial, konsep kemilenialan Jokowi dibangun sebagai tokoh yang berjiwa milenial. Pemahaman tentang global pop culture yang sering diselipkan dalam pidato-pidatonya dan kemauan untuk mengetahui dan mempelajari hal-hal yang sedang tren membuatnya dianggap mewakili kaum milenial. Dapat diartikan bahwa menurut pendukung Jokowi mengikuti perkembangan tren budaya global adalah ciri dari kaum milenial.

Sementara Sandi yang secara usia masih dapat mewakili kaum milenial as is, dibangun konsepnya sebagai milenial yang otentik dan orisinal. Jika Jokowi melakukan mimic atau meniru apa yang dikonsepsikan sebagai kebiasaan kaum milenial, maka Sandi menggunakan statusnya sebagai “milenial sesungguhnya”. Dengan kata lain, Sandi adalah milenial dan ketika Sandi berkata dirinya unik dan otentik, maka setiap milenial pun demikian. Menurut pendukung Sandi, milenial tidak dapat diberi konsep pasti sebagai suatu kelompok karena setiap individu milenial adalah individu yang otentik dan unik.

Namun terlepas dari perbedaan tersebut, pendukung kedua kubu sama-sama menyetujui beberapa konsep milenial, yaitu sikap kreatif dan inspiratif. Jadi terlepas dari perbedaan pendapat terhadap apa itu milenial, setidaknya kedua kubu sepakat bahwa generasi milenial harus kreatif dan menginspirasi.

CLOSING

Jika dilihat secara kuantitas, strategi Jokowi dalam “menjadi milenial” tampaknya lebih banyak menarik perhatian dari warganet terlepas dari pro-kontra pendapat terhadap pemaknaannya. Namun dari segi wacana yang dibangun, apa dan siapakah milenial menurut kalian?