Minggu ini muncul petisi untuk menghentikan iklan Blackpink yang dikeluarkan Shopee untuk memperingati Harbolnas. Penggagasnya adalah Maimon Herawati, seorang dosen UNPAD yang merasa iklan tersebut tidak baik untuk anak-anak. Segera setelah petisi ini muncul, media sosial gempar dengan berbagai macam opini, terutama karena subjek petisi ini adalah salah satu grup K-Pop yang tengah tren di kalangan anak muda saat ini.

Drone Emprit memantau perkembangan isu ini selama sepekan dari tanggal 6 - 14 Desember 2018 untuk mencari tahu bagaimana pemberitaan media online dan perbincangan di media sosial terkait isu ini berlangsung. Kata kunci yang digunakan adalah Blackpink dengan filter “Shopee”, “Maimon,” dan “petisi”.

DATA

Penyebaran Isu Petisi

Hingga saat ini, isu petisi Blackpink telah diperbicangkan sebanyak 904 penyebutan di media sosial dan diberitakan dalam 452 artikel di media online. Twitter menjadi media sosial yang paling banyak memperbincangkan isu ini, yaitu sekitar 739 penyebutan ditemukan menggunakan kata kunci yang digunakan.

Isu petisi penghentian iklan Blackpink sendiri mulai dibicarakan pada 8 Desember 2018, baik di media sosial maupun di media online. Namun perbincangan terkait hal ini lebih dulu ramai di Twitter daripada di media sosial lain ataupun pemberitaan media online. Di Twitter, puncak perbincangan terjadi pada 10 Desember dengan total penyebutan kata kunci sebanyak 247 kali.

Sementara itu, di Facebook penyebutan tentang isu ini baru memuncak keesokan harinya pada 11 Desember, seiring dengan puncak pemberitaan media online. Youtube mendapatkan gelombang terakhir dengan mengalami puncak pembicaraan pada 12 Desember.

Media yang pertama terpantau meliput petisi ini adalah Viva.com dan MalangToday pada 8 Desember. Setelah itu hampir tidak ada media yang meliput mengenai petisi ini hingga KPI mengeluarkan putusan untuk menegur pihak stasiun televisi terkait iklan Blackpink. Pemberitaan media online pada hari itu sebagian membahas mengenai daftar stasiun televisi yang ditegur oleh KPI, petisi-petisi tandingan yang dibuat setelah itu, atau tentang komentar dari pihak Shopee selaku instansi yang direpresentasikan oleh Blackpink dalam iklan tersebut.

Namun jika dilihat dari topic map selama waktu pemantauan, sorotan media banyak menjurus kepada pro-kontra definisi moral yang dikaitkan dengan petisi penghentian iklan Blackpink. Detik, misalnya, menampilkan artikel opini tentang sejauh mana masyarakat kita memahami moral dan mengajari anak-anak tentang adab, bukan hanya adab berpakaian sopan tetapi juga adab untuk tidak melecehkan perempuan. Sementara Republika menerbitkan opini tentang upaya untuk mencegah budaya “mengangkat rok tinggi-tinggi”.

Pro-Kontra di Media Sosial

Seperti yang disebutkan di atas, perbincangan mengenai isu ini lebih banyak terjadi di Twitter sebelum menjalar ke Facebook dan kemudian Youtube. Di Twitter, opini yang terbentuk sebagian besar mengkritisi sikap Maimon Herawati. Dilihat dari twit yang paling banyak dibagikan dalam membicarakan isu ini, orang-orang yang mendominasi rata-rata adalah aktivis perempuan dan gender serta fans K-Pop secara umum.

Dilihat dari peta SNA, key opinion leader yang mendominasi isu ini adalah dua akun yang saling bersebrangan pendapat, yaitu @himalayaaa_ dan @maspiyuuu.

Twit balasan @himalayaaa_ di twit aktivis perempuan dan gender, Tunggal Pawestri, yang menganggap petisi terhadap Blackpink sama seperti victim blaming pada kasus perkosaan mendapatkan retweets paling banyak dari warganet, yaitu sebanyak 131 retweets. Sementara twit @maspiyuuu yang mengajak warganet untuk turut mendukung petisi Maimon Herawati dibagikan sebanyak 108 kali oleh warganet.

@himalayaaa__ : "@tunggalp Yg bikin petisi iklan blackpink shopee itu ibarat orang yg nyalahin korban sexual harrasment/rape akibat pakaian yg dipake(sebab akibat). Cukup Aceh yg punya perda syariah, jgn batasi hak orang lain dgn alibi mengingatkan padahal menghakimi." (9/Dec/2018 10:12 WIB)
@maspiyuuu : "Vulgar Seronok tak pantas di acara TV Anak-anak.. Puluhan Ribu Warganet Tanda Tangani PETISI HENTIKAN IKLAN BLACKPINK SHOPEE!! Dimana letak perlindungan KPI pada generasi penerus bangsa? https://t.co/GcPwSWenGF https://t.co/0nL0YIvS5G" (10/Dec/2018 09:09 WIB, dengan menyertakan tautan menuju petisi Maimon Herawati)

Senada dengan @himalayaaa_ , beberapa akun fans K-Pop juga menganggap bahwa petisi tersebut mendiskreditkan perempuan, seperti twit dari @kukuhgiaji (12 retweets) dan @shadds19 (5 retweets).

@kukuhgiaji : "Petisi Blackpink ini sendiri malah mendiskreditkan perempuan tau gak! Seakan-akan perempuan yang memakai pakaian "serba mini" itu diidentikkan 'nakal', 'gila', dan 'penggoda'. Pembuat petisi perempuan sekaligus dosen jurnalistik Unpad lagi. Yah kok bisa? https://t.co/xpimUDiIHo" (8/Dec/2018 14:13 WIB, dengan menyertakan tautan menuju petisi dan utasan argumentasi kritik terhadap petisi tersebut)
@shadds19 : "tendensi menyalahkan korban pemerkosaan krn pake baju minimalis tuh yaa berawal dari perilaku seperti insan2 yg menyukseskan petisi pemberhentian iklan shopee yg dibintangi oleh blackpink ini. yg mesti ditutup itu bukan badan. tapi sempitnya pikiran." (11/Dec/2018 08:03 WIB)

Sementara itu, twit-twit yang setuju dengan petisi Maimon tidak banyak terlalu banyak berargumen dan hanya menyebarkan kembali tautan menuju petisi tersebut. Hal ini selain dilakukan oleh @maspiyuuu juga dilakukan oleh akun @arwidodo.

@arwidodo : "PKS Terima Aduan Tayangan Shopee Blackpink yang Timbulkan Pengaruh Buruk untuk Anak https://t.co/LDrwLKcEwk" (10/Dec/2018 17:54 WIB, 15 retweets)

Namun ada juga akun-akun yang membicarakan isu ini dengan lebih terfokus pada sosok yang memulai petisi daripada apa yang diangkat oleh petisinya, seperti akun @NaufalRM dan @edukotor yang lebih fokus kepada fakta bahwa Maimon adalah seorang dosen jurnalistik UNPAD.

@NaufalRM : "Wow, baru tau Maimon Herawati yang bikin petisi Blackpink itu ternyata... Dosen Fikom Unpad. Maksud gue, perasaan mahasiswa Fikom Unpad gimana ya sekarang? 🤔" (9/Dec/2018 21:55 WIB, 29 retweets)
@edukotor : "Orang UNPAD yang bikin petisi penolakan BlackPink di Shopee 😱😱 https://t.co/AlB2AUxWUU" (9/Dec/2018 09:14 WIB, 14 retweets, dengan menyertakan twit yang berisi informasi Maimon Herawati)
@adkundesu: "di facebook kemaren rame sama emak2 GOBLOG yang mau bikin petisi ngeremove iklan Shopee gini ya, emak2 sok milenial. LO SANGE APA GIMANA?ATAU KALAH SEMOK SAMA BLACKPINK????HAH??? "respek sama yang tua dong" sorry, that doesnt exist in my dictionary if you're being an asshole." (9/Dec/2018 17:01 WIB, 10 retweets)
@ixsnrs : "FYI sobat mediaku, ibuibu yg bikin petisi anti-iklan Blackpink Shopee itu dosen jurnalisme Unpad lho." (11/Dec/2018 16:28 WIB, 4 retweets)

Sampel komentar-komentar di Facebook juga menunjukkan pola pro-kontra yang sama seperti di Twitter. Para pendukung petisi lebih banyak membagikan tautan menuju petisi tersebut tanpa banyak argumen sementara pengkritik petisi memberikan argumen mengenai standar ganda dan ketidakadilan petisi tersebut serta pembicaraan mengenai pembuat petisi.

ANALISIS

Permasalahan Generasi di Dunia Maya

Permasalahan kesopanan dan adab berpakaian perempuan sebetulnya bukanlah hal yang baru saja terjadi. Di setiap era pemerintahan dari masa kemerdekaan Indonesia, pakaian perempuan selalu menjadi salah satu masalah yang terus diperdebatkan dan seolah tidak ada kata sepakat mengenainya.

Maka tidak aneh ketika isu yang diangkat oleh Maimon Herawati akan menimbulkan polemik dengan argumen yang berputar di tempat yang sama dengan pelaku yang sama pula: antara golongan tua yang menjunjung adat dan budaya versus golongan muda yang menjunjung modernitas.

Dapat dilihat Maimon Herawati dan pendukungnya berada di kelompok yang mana. Dengan mengedepankan argumen “untuk anak-anak”, sudah jelas Maimon Herawati memposisikan diri sebagai golongan orang tua penjunjung adat dan tradisi. Argumen dari golongan tua selalu mengedepankan agar anak-anak tidak melupakan tradisi demi masa depan yang lebih baik.

Di lain pihak, dapat dilihat juga siapakah kelompok pengkritisi Maimon: penggemar K-Pop yang rata-rata berusia remaja hingga dewasa muda atau aktivis perempuan dan gender yang menginginkan adanya social change. Dengan demikian dapat dikatakan mereka adalah golongan muda yang menginginkan perubahan menuju modernitas.

Dari segi banyaknya suara di media sosial, tampaknya golongan muda lebih mendominasi. Apalagi jika melihat bahwa suara terbanyak dihasilkan di Twitter, media sosial yang memang sering menjadi tempat fans K-Pop berinteraksi dan bertukar kabar tentang idola mereka. Namun argumentasi dari golongan muda tampaknya tidak kuat, karena alih-alih membuat satu argumentasi kuat kenapa petisi tersebut patut dikritik. Kelompok aktivis perempuan membuat argumen mengenai bagaimana petisi tersebut seolah mendiskreditkan perempuan, tetapi sebagian lagi lebih banyak terfokus pada sosok pembuat petisi dengan argumen ad hominem yang hanya bersifat merisak daripada mengkritik.

Sementara itu, meski suaranya tidak terlalu terdengar, cara golongan tua menggunakan petisi tampaknya lebih efektif. Penggunaan petisi menunjukkan bahwa para pendukung memiliki satu suara tentang apa yang mereka perjuangkan. Hasilnya, petisi tersebut berhasil mendesak pemangku kekuasaan (dalam kasus ini adalah KPI) untuk mendukung argumen mereka. Namun di sisi lain, penggunaan petisi terkesan satu arah dan hanya memberikan tempat bagi yang setuju tanpa memberi kesempatan untuk mendengarkan pendapat yang berseberangan.

CLOSING

Isu petisi untuk Blackpink ini bagaikan pertengkaran antara orang tua dan anak perempuannya di era digital. Orang tua merasa mereka tahu apa yang terbaik untuk anak-anak mereka, sementara anak-anak merasa orang tua mereka sudah kuno dan tidak memahami permasalahan era baru. Pertengkaran semacam ini sebetulnya bisa ditanggulangi jika kedua pihak bisa terbuka dan saling mendengarkan pendapat pihak lainnya.

Sayangnya, dalam kasus ini, orang tua masih merasa pemutusan akses satu arah adalah jawaban terbaik bagi anak-anak mereka dan anak-anak sudah terlalu antipati pada sikap orang tua hingga hanya bisa menggerutu dan mengejek.