Demo Guru Honorer Minim Perhatiankah?

Oleh: Rachmat Kurniawan

Beberapa hari lalu, sejumlah guru honorer melakukan demonstrasi di beberapa daerah, seperti di Garut, Bogor, dan Sukabumi. Seberapa besarkah perhatian netizen terhadap berita demontrasi tersebut? Bagaimanakah pemberitaan dan perbincangan yang berkembang di balik berita unjuk rasa guru honorer itu? Dan bagaimana pulakah pola pemberitaan dan percakapan di media online dan sosial terkait berita unjuk rasa guru honorer ini?

SETTING DATA

Untuk mengetahui itu, Drone Emprit (DE) memonitor pemberitaan di online news dan media sosial khususnya Twitter dengan pengambilan data berdasarkan kata kunci: guru, ditambah dengan kata kunci filter (should contain) yaitu honorer. Pengambilan data ini dilakukan sepanjang 13 September hingga 19 September 2018.

TEMUAN

Volume Data

Berdasarkan hasil pencarian DE pada periode tersebut, didapatkan data terkait volume mentions, yakni di media online sebesar 2.741 mentions dan di media sosial sebesar 2.848 mentions. Total mentions-nya adalah 5.589.

Tren Media Online

Dilihat dari tren pemberitaan di media online, awal mula pemberitaan dimulai pada 13 September yang mengangkat isu seputar demo guru honorer yang terjadi di wilayah Garut. Aksi ini dihadiri oleh sejumlah guru SD, SMP, dan SMA dari 42 kecamatan di Garut.

Tren berikutnya, pada 14 September. Pada tanggal ini muncul pemberitaan tentang pembukaan CPNS di wilayah Jawa Barat. Informasi pembukaan CPNS ini mendorong demo beberapa guru honorer di wilayah Sukabumi, Garut, dan Bogor karena banyak di antara mereka merasa keberatan dengan sejumlah persyaratan penerimaan CPNS.

Pada 17 September, tren kembali meningkat, yang mengangkat isu penerimaan 5000 CPNS di wilayah Sleman. Berbeda di beberapa wilayah Jawa Barat, di Sleman tidak ada isu demonstrasi, yang menandakan di wilayah tersebut cenderung minim akan kekisruhan penerimaan CPNS.

Tren pemberitaan kembali meningkat pada 19 September. Pemberitaan yang muncul adalah mengenai isu penolakan dari perkumpulan honorer K2 terkait penerimaan CPNS umum. Mereka menolak seleksi CPNS tersebut disebabkan sejumlah persyaratan yang memberatkan mereka.

Tren di Social Media

Tren perbincangan di media sosial mulai mengalami peningkatan pada 14 September (983 mentions) yang mengangkat isu demonstrasi guru honorer di depan Istana Negara. Mereka menganggap Presiden melakukan kebohongan terkait minimnya upah guru honorer di daerah dan mahalnya sejumlah kebutuhan bahan-bahan pokok. Berbeda dengan di wilayah DKI Jakarta, upah guru honorer hanya 600 ribu di daerah dan itu dirasa kurang mencukupi.

Tren berikutnya pun terlihat serupa pada 15 September (1009 mentions) yang mengangkat tema soal kebohongan Jokowi dalam menyejahterakan para guru honorer.

Volume Pemberitaan Antar Media Online

Dilihat dari pemberitaan di media online, seperti terlihat pada grafik di bawah, pemberitaan sehubungan dengan demonstrasi guru honorer pada media mainstream tidak cukup besar seperti pada media daerah. Pemberitaan yang paling banyak justru tampak pada media daerah, yakni galamedianews.com (Jawa Barat) (berjumlah 86 Artikel), yang kemudian dilanjutkan oleh media online lainnya yang jumlah artikelnya tidak sebanyak galamedianews.com, seperti jpnn.com (30 artikel), sukabumiupdate.com (28 artikel), jabar.tribunnews.com (27 artikel), dan republika.co.id (23 artikel).

Grafik Engagement dan Exposure

Pada grafik Engagament dan Exposure terlihat pola percakapan yang didominasi oleh pola retweet. Pola tersebut didominasi oleh akun-akun yang memiliki followers yang berjumlah 100-500 followers. Ini menandakan percakapan kemungkinan besar dilakukan bukan oleh program robot. Jika dilihat dari besar jumlah followers-nya, kemungkinan dilakukan oleh akun-akun baik itu buzzer maupun organik.

Most Retweet

Dari grafik most retweet dapat dilihat status siapa saja yang paling sering disebarkan di Twitter. Di antaranya @ChaKum (610 retweet), @erna_st (486 retweet), @rmolco (370 retweet), @RajaPurwa (298 retweet), dan @geloraco (54 retweet). Cuitan-cuitan dari akun yang acap di-tweet ulang ini sebagian besar menyatakan bahwa Presiden Joko Widodo telah melakukan kebohongan terkait kesejahteraan para guru honorer, khususnya di beberapa daerah. Berikut kutipan cuitan dari akun-akun tersebut.

@ChaKum (18.465 Followers) mengatakan : “Demo Depan Istana Negara, Guru Honorer: Jokowi Bohong #2019GantiPresiden #2019PrabowoPresiden https://t.co/u96VJV7Yxn”.
@erna_st (3.825 Followers) mengatakan: “Pak Jokowi bohong. Upah kami kecil hrg bhn pokok mahal, kami masak & makan pakai apa[P22] pak?" Tuti pun ingatkan jika upah guru honorer di Jakarta beda dgn daerah. "Di daerah dibyr Rp 600 rb, di Jakarta untungnya dibantu Gub. Anies lumayan dptnya," ujar Tuti https://t.co/eZfOUgxgr0
@rmolco (37.569 Followers) mengatakan: “Demo Depan Istana Negara, Guru Honorer: Jokowi Bohong! #KlikRMOL #jokowi https://t.co/EjfPfNfp1z
@RajaPurwa (17.647 Followers) mengatakan : “Guru lho ya yang bilang bukan gw.... :-) Demo Depan Istana Negara, Guru Honorer: Jokowi Bohong! #2019GantiPresiden https://t.co/T7mOOqHv9C
@geloraco (30.559 Followers) mengatakan: “Demo Depan Istana Negara, Guru Honorer: Jokowi Bohong! https://t.co/tDkZq8eVzP


Most Shared URL’s

Dari sisi percakapan di media sosial, ada beberapa situs yang kerap dibagikan oleh netizen. Di antaranya situs gelora.com, portal-islam.id, nusanews.id, dan rmol.co di mana situs-situs tersebut menyuarakan isu demonstrasi guru honorer. Adapun dari beberapa judul artikel yang dibagikan cenderung memiliki isu yang sama. Sebagai contoh pada situs gelora.co dengan headline “Demo Depan Istana Negara, Guru Honorer: Jokowi Bohong!”. Artikel ini menjelaskan upah guru honorer yang masih minim dan mahalnya sejumlah kebutuhan pokok.

Top Hashtags

Dari grafik top hashtags dapat dilihat apa saja hashtags yang paling sering disebutkan dalam setiap cuitan di media sosial (Twitter). Terlihat #2019GantiPresiden paling mendominasi di samping #2019PrabowoPresiden dan #jokowi.

Topic Maps

Dari grafik topic maps, isu seputar demo guru honorer didominasi oleh pemberitaan para guru honorer K2 yang menuntut adanya keadilan terhadap seleksi penerimaan CPNS. Mereka memprotes terkait persyaratan penerimaan yang dinilai tidak adil dengan kondisi di beberapa daerah. Berita lainnya terkait pembukaan dan formasi CPNS serta demo guru honorer di Bogor yang menolak proses seleksi CPNS. Mereka menuntut keadilan terhadap prioritas profesi guru honorer untuk diangkat menjadi PNS yang telah mengabdi selama puluhan tahun serta penetapan batas usia yang dinilai memberatkan mereka.

Grafik SNA

Dari grafik SNA dapat dilihat hanya ada satu chamber yang membahas isu demo guru honorer, yakni mereka yang mendukung aksi demo guru honorer.

ANALISIS

Dari data di atas didapat sejumlah informasi menarik. Pertama, dari sisi pemberitaan, volume pemberitaan di portal berita daring terkait isu demo guru honorer ini cukup besar. Berbeda dengan sisi volume percakapan di media sosial yang hanya berjumlah 2 ribuan di mana itu dirasa kurang menarik oleh para netizen.

Kedua, dari pola tren pemberitaan, demo guru honorer cenderung diisi oleh isu penerimaan CPNS di sejumlah beberapa daerah. Dengan kata lain, demo guru honorer didorong karena penolakan mereka pada persyaratan penerimaan CPNS yang dinilai kurang adil atau memihak mereka.

Ketiga, baik dari grafik percakapan, utamanya dari most retweet maupun most URL’s, didominasi oleh ungkapan kritikan terhadap Presiden Jokowi. Kritikan tersebut menyuarakan bahwa Presiden Jokowi dianggap melakukan kebohongan soal kondisi guru honorer dan harga kebutuhan pokok yang mahal. Agaknya, ini merupakan isu utama yang dibahas baik di pemberitaan maupun percakapan (di Twitter). Sayangnya, pernyataan resmi dari Presiden Jokowi masih belum muncul untuk merespons beberapa tuntutan yang dilakukan para guru honorer tersebut.

Keempat, dari grafik SNA terlihat hanya ada satu chamber yang aktif berbicara soal demo guru honorer ini.  Tak ada muncul chamber lain, khususnya dari pihak pemerintah.

PENUTUP

Menjawab pertanyaan di awal tulisan ini, meskipun volumenya tidak cukup besar, demonstrasi guru honorer cukup mendapat tempat di perbincangan netizen. Perbincangan yang berkembang di balik seputar aksi unjuk rasa ini adalah tuntutan keadilan dan kesejahteraan terhadap guru honerer. Isu ini yang kemudian ditonjolkan oleh chamber yang umumnya kontra pemerintah, yang tampak dari dominansi akun-akun yang kerap di-tweet ulang terkait demonstrasi guru honorer. Dari pola percakapan, justru hampir tidak muncul chamber berbeda di luar chamber yang disebut tadi seperti chamber pro-pemerintah untuk menanggapi isu ini. Hal ini menandakan isu ini cenderung digunakan oleh kubu oposisi untuk mengangkat isu demo guru honorer ini. Sejatinya, tentu isu ini perlu direspons terutama oleh pro-pemerintah. Untuk apa? Agar aksi demonstrasi para guru honorer ini tidak terkesan minim perhatian dari pemerintah, sebaliknya justru mendapat perhatian di media sosial, khususnya dari kubu kontra pemerintah.