Isu Masyarakat Adat: Pemahaman dan Kepedulian Media Massa dan Media Sosial

Oleh: Hari Hambari

Di tengah beragam isu politik yang membahana di tahun politik saat ini, Drone Emprit (DE) mencoba mengetengahkan isu lain, yang barangkali bermanfaat pula untuk diketahui. Yakni, isu terkait masyarakat adat. Yang ingin diketahui adalah bagaimana pemberitaan di media massa (online news) dan percakapan di media sosial sehubungan dengan isu masyarakat adat?

Untuk mengumpulkan data, DE menggunakan kata kunci masyarakat adat, sepanjang 20 Juli hingga 29 Oktober 2018. Dari data yang diperoleh tersebut, kesimpulan apa yang dapat ditarik?

DATA

Volume dan Tren

Selama masa pemantauan, tercatat 5215 penyebutan (mention) tentang masyarakat adat di media massa. Ini setara 51 penyebutan per hari. Di media sosial, isu ini disebut sebanyak 8065 atau setara 79 konten per hari. Jika dibandingkan dengan projek isu hangat ”korupsi” (rata-rata 5500 penyebutan/hari) yang DE buat misalnya, maka angka percakapan tentang masyarakat adat ini sangat minim.

Bagaimana dengan trennya?

Tren percakapan di media sosial cenderung mengikuti ritme pemberitaan. Data tren memperlihatkan keterkaitan bagaimana arah pemberitaan mempengaruhi percakapan di media sosial.

Waktu Percakapan

DE juga memonitor waktu percakapan.

Sejauh data yang ditangkap DE, percakapan paling ramai terjadi pada setiap hari Senin dan Selasa. Hal ini menunjukkan, isu masyarakat adat masih di sekitar isu ”berat” dan “serius”. Isu ringan mendapat porsi signifikan di hari Sabtu dan Minggu. Apakah isu masyarakat adat juga muncul pada hari Sabtu dan Minggu? Pada hari Sabtu dan Minggu, percakapan masyarakat adat muncul dan diasosiasikan dengan wisata dan mendapat amplifikasi yang lebih baik.

Topik

Topik percakapan yang paling disorot adalah acara festival adat (kotak merah), politik (kotak kuning) dan gambaran ketertinggalan masyarakat adat (kotak biru).

Hal yang sama terlihat melalui top hestek: event PesonaFestivalKeraton, politik dan gambaran penderitaan masyarakat adat menjadi perbincangan paling menarik.

Pelaku Isu Masyarakat Adat

Influencer yang paling punya daya sebar adalah akun-akun resmi media massa dan tokoh.

Engagement Tertinggi

Influencer dengan engagement tertinggi adalah tokoh politik sekaligus aktivis lingkungan/adat seperti Abdon Nababan; kemudian NGO/LSM adat seperti PerempuanAMAN, Epistema Institute, AMAN; dan akun-akun yang lebih bernuansa politik seperti Lestiani Sanjaya dan iketubob. Perlu juga diberi tambahan catatan, bahwa isu masyarakat adat disebarkan juga sebagai narasi untuk freewestpapua.

SNA

Dari peta SNA, bentuk chamber yang terpencar menunjukkan interaksi yang minim. Berarti, isu ini sulit viral. Tidak ditemukan akun aktivis masyarakat atau lembaga dalam men-drive isu. Hal ini menujukkan, ada peluang satu lembaga untuk masuk dan menjadi representasi dari masyarakat adat.

ANALISIS

Dari data di atas, terdapat beberapa kesimpulan yang bisa disampaikan di sini.

Pertama, Percakapan mengenai masyarakat adat minim.

Kedua, kenaikan percakapan dipengaruhi oleh media massa.

Ketiga, kemasan percakapan mengenai isu ini masih “serius” dan ”berat”.

Keempat, masalah isu ini masih di sekitar aktivis, tokoh politik, dan lembaga penggiat adat.

ClOSING

Bangun isu masyarakat adat yang lebih santai sehingga dapat melibatkan kalangan lebih luas. Sehingga tak hanya aktivis, tokoh, atau lembaga yang selama ini concern di wilayah isu. Pembangunan asosiasi masyarakat adat akan mendapat peluang amplifikasi lebih baik pada hari Sabtu dan Minggu.