Kontroversi Program Organisasi Penggerak (POP) Kemdikbud

Oleh Ismail Fahmi

@Muhammadiyah, @nahdlatululama, lalu PGRI mundur dari program ini. Mendikbud Nadiem @MasMenteri meminta maaf, lalu menunda dan mengevaluasi POP.  Bagaimana response para stakeholder?

KONTEKS  
POP merupakan program peningkatan kualitas pendidikan dan penguatan SDM dari Kemendikbud. 156 organisasi masuk kriteria, termasuk Muhammadiyah dan NU.  Kedua ormas ini kemudian mundur, dg alasan kriteria dan hasil seleksi OP tidak jelas. Kemdikbud bilang sdh transparan.

RESEARCH QUESTIONS  
- Bagaimana response para tokoh atas mundurnya Muhammadiyah dan NU dari POP Kemdikbud?
- Bagaimana response warganet?
- Bagaimana Kemdikbud meresponse isu ini di media sosial?

SETTING  
Keywords (OR):  Kemdikbud, Mendikbud, Program Organisasi Penggerak  
Filters (OR): Muhammadiyah, NU, PGRI  
Durasi: 21-29 Juli 2020

VOLUME  
Percakapan hanya dibatasi oleh keyword dan filter di atas. Meski sangat ketat settingnya, masih didapat data yang cukup banyak.   Total 10k mention, terbanyak dari Twitter 8.7k, Online News 1k, lalu IG 167.

TRENDS – PERKEMBANGAN ISU  
Dari tanggal 21 sd 29 Juli, tren percakapan di berbagai kanal mencapai puncak pada 24 Juli.   Dimulai 22 Juli, @muhammadiyah dan @nahdlatululama mundur, lalu 23 Juli PGRI jg. Setelah itu cenderung turun. 28 Juli naik lagi, saat @MasMenteri minta maaf.

TOPIC MAP – MEDIA ONLINE (22 JULI 2020)  
Pemberitaan media pada 22 Juli diramaikan oleh mundurnya @muhammadiyah dan @nahdlatululama.   Topik utama pemberitaan adalah ttg POP, Muhammadiyah, Kemendikbud, NU, Guru Penggerak, Alasan mundur, dan polemik lolosnya lembaga CSR.

TOPIC MAP – MEDIA ONLINE (21-26 JULI 2020)  
Grafik tren memperlihatkan dalam periode 21-26 Juli belum ada response solutif dari @MasMenteri. Pro-kontra muncul, hingga ada tuntutan agar Nadiem mundur, usulan PGRI agar POP ditunda, dan tudingan Nadiem tak paham sejarah.

SNA (21 – 26 JULI 2020)  
Peta Social Network dalam periode ini cenderung merah (negatif), yang berarti mayoritas percakapan tidak "favorable" terhadap program POP.   Tampak satu cluster besar dari Media dan Pro Oposisi, cluster NU dipimpin @cakimiNOW, dan cluster @muhammadiyah.

TOP INFLUENCERS (21-26 JULI 2020)  
Akun yang paling influensial (mendapat response terbesar) dari kalangan media adalah @geloraco, @suaraharian_com, @tempodotco, @rmol_id, @kumparan.  Dari tokoh politik: @cakimiNOW, @hnurwahid, @fahiraidris, @fadlizon.

Dari kalangan ormas Muhammadiyah: akun @muhammadiyah yg paling influensial, dibantu @majalahSM. Dan dari NU akun @cakimiNOW dibantu @nu_online, @dpp_pkb.  Lainnya dari oposisi seperti @OposisiCerdas, @maspiyuO, @MichelAdamADA_, dll.

MOST RETWEETED (21-26 JULI 2020)  
Top narasi dalam periode ini: @geloraco: judul yang klik bait memainkan emosi (berkabung, lecehkan) mendapat RT paling besar.  @cakimiNOW: minta Mendikbud belajar sejarah ttg kiprah @muhammadiyah dan @nahdlatululama dlm pendidikan.

Top narasi berikutnya:  @hnurwahid: melihat wajar protes DPR atas "hibah" @ Rp 20M kepada Sampoerna-Tanoto Foundation.   Dua akun oposisi @OposisiCerdas dan @suaraharian_com mengamplifikasi berita klikbait dari @geloraco di atas ttg "dunia pendidikan berkabung."

Lebih banyak tentang narasi yang paling influensial bisa dilihat di sini.   Terdapat penjelasan @Muhammadiyah mengapa mundur, dan juga pandangan dari tokoh politik seperti @fahiraidris agar Kemendikbud memperhatikan keberatan kedua ormas.

MOST SHARED IMAGES (21-26 JULI 2020)  
Gambar yang paling banyak dishare dalam periode ini nomor satu dari @cakimiNOW ttg status dari Fachry Ali ttg Nadiem yang "benar-benar membuktikan tidak tahu masa lalu." Lalu foto dari @Muhammadiyah saat menjelaskan alasan mundur.

Beberapa akun yg mendukung @Kemdikbud_RI berusaha menjelaskan bahwa program POP itu bagus, evaluasi dan seleksi sangat ketat dan transparan.    Screenshot berita diambil dari situs yang tak terlalu terkenal seperti HalloMedan, PotretManado, HaloJatim, JogjaAja, MakassarInsight.

TOPIC MAP – MEDIA ONLINE (27 JULI 2020)  
Hinggal 27 Juli, tampaknya belum ada response yang solutif dari @MasMenteri, sehingga polemik melebar kemana-mana.   Suara dari DPR makin kencang mendominasi berita, meminta Nadiem mengevaluasi POP, POP bikin gaduh dunia pendidikan.

TOPIC MAP – MEDIA ONLINE (28-29 JULI 2020)  
Baru 28 Juli, @MasMenteri akan mengevaluasi POP, meminta maaf kepada @muhammadiyah, @nahdlatululama dan PGRI, dan meminta kembali ikut POP.  Meski permintaan maaf ini cukup meredakan polemik, namun kedua ormas tetap bulat soal POP.

SNA (27-29 JULI 2020)  
Peta SNA periode ini memperlihatkan sebenarnya dari oposisi sudah tak muncul lagi. Lebih banyak berupa penjelasan dari @MasMenteri dan dibantu oleh @tolakbigotnkri, @elpanjullo.   @ILCtv1 juga muncul mengangkat topik ini.

TOP INFLUENCERS (27-29 JULI 2020)  
Top influencers di beberapa hari terakhir adalah @ILCtv1, @elpanjullo, @Kanseulir, @tolakbigotnkri, dan @detikcom.   Lalu ada @nu_online yg masih influensial, dan @muhammadiyah yang sudah santui.   Akun @MasMenteri muncul periode ini.

MOST RETWEETED (27-29 JULI 2020)  
Top narasinya dari @ILCtv1 yang mengangkat #ILCHibahBuatKonglomerat.   @elpanjullo dan @tolakbigotnkri mengajak nonton penjelasan Nadiem yg minta maaf kpd Muhammadiyah, NU dan PGRI; dan menyatakan Tanoto dan Sampoerna tidak pakai APBN.

MOST SHARED IMAGES (27-29 JULI 2020)  
Gambar yang paling banyak dishare adalah dari @muhammadiyah, memperlihatkan Nadiem mengunjungi Muhammadiyah dan meminta maaf. Ini sebuah gesture yang sangat bagus, silaturahmi, dan cukup meredakan polemik. Lainnya juga diwarnai soal maaf ini.

MOST LIKED IG POSTS  
Polemik ini tidak hanya ramai di Twitter. Di Instagram juga banyak postingan yang mendapat like dan komen yang besar. Seperti dari Lensamu (6.8k like, 125 komen), Merdekadotcom, dll.   Engagement postingan di IG tampak lebih banyak dibanding di Twitter.

MOST LIKED FACEBOOK POSTS  
Di Facebook, berita yang paling banyak disukai adalah dari @CNNIndonesia, tentang Persatuan Guru NU yang menilai Nadiem gagal menyikapi persoalan pendidikan.   Kebanyakan berita senada yang dishare oleh media di Twitter juga bisa ditemukan di Facebook.

KESIMPULAN  
1/ Dari timeline isu soal POP ini tampak bahwa butuh waktu yang relatif lama bagi @MasMenteri untuk mengambil langkah solutif. Isu muncul 22 Juli, tgl 28 Juli baru mengunjungi NU dan Muhammadiyah.  

2/ Akibatnya, isu ini melebar cukup luas, hingga ada tuntutan mundur.

3/ Perlu diapresiasi bahwa selama periode itu, @Kemdikbud_RI tidak kuat-kuatan menggunakan buzzer untuk mendukung POP dan menyerang pengritik. Hanya menjelaskan secukupnya di media dan media sosial bahwa prosesnya sudah transparan, dan kedua yayasan tidak pakai APBN.

4/ Isu POP Kemdikbud ini tampak diramaikan pula oleh cluster oposisi, dan beberapa tokoh politik terutama dari kalangan DPR (@cakimiNOW, @hnurwahid, @fahiraidris).  

5/ Portal berita ormas berperan penting dalam penyampaian pandangan ormas, misal @nu_online dan @majalahSM.

6/ Response @MasMenteri terakhir adalah berkomunikasi dg ketiga organisasi, meminta maaf, menunda dan mengevaluasi POP, serta meminta ketiganya kembali bergabung. Diharapkan ini akan menurunkan tensi polemik.  

7/ NU dan Muhammadiyah berterimakasih, namun sulit kembali ke POP.

CLOSING  

Saya pribadi melihat tujuan awal dari POP @Kemdikbud_RI ini bagus, meningkatkan kualitas pendidikan dan penguatan SDM khususnya para guru.  Perencanaan, komunikasi, dan sosialisasi dengan semua stakeholder musti dilakukan dengan baik. Salah "dikit" bisa buyar.