Papua di Persimpangan Jalan

Oleh: Ayu Puspita Sari

Selain diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia, tanggal 1 Desember diperingati pula oleh masyarakat Papua sebagai hari peringatan kemerdekaan Papua dari penjajahan Belanda. Tahun ini mahasiswa Papua merayakan hari peringatan tersebut dengan agenda aksi rutin mereka meski harus berhadapan dengan pihak otoritas. Tercatat ratusan mahasiswa Papua diamankan oleh kepolisian pada hari tersebut.

Drone Emprit memantau apa, siapa dan bagaimana reaksi masyarakat terhadap aksi mahasiswa Papua pada 1 Desember tersebut dan bagaimana pemberitaan media terhadap aksi tersebut. Pemantauan dilakukan selama dua hari, yakni pada tanggal 1 - 3 Desember 2018 menggunakan kata kunci “Papua” dengan filter “mahasiswa” dan “1 Desember”.

DATA

Aksi mahasiswa Papua pada 1 Desember selama masa pemantauan dibicarakan sebanyak sekitar 9.700 penyebutan di media sosial terutama Twitter dan diberitakan oleh media online baik lokal maupun nasional sebanyak 687 artikel.

Pemberitaan media pada tanggal 1 Desember terbagi menjadi fokus pada bentrokan antara demonstran dan aparat atau fokus pada hari peringatannya. Media seperti Okezone, Kumparan, dan Tribun Jatim fokus pada acara peringatan di judul artikelnya dengan menyebut Hari Peringatan Papua Merdeka atau HUT OPM. Sementara media online seperti Detik dan Tempo lebih memberi sorotan pada bentrokan yang terjadi dalam aksi tersebut.

Sehari setelahnya, pemberitaan banyak media lebih condong pada pemberitaan penangkapan ratusan mahasiswa Papua dan sikap opresif aparat. Terutama setelah dua aktivis yang ditahan dari aksi tersebut dikabarkan hilang.

Kabar hilangnya dua aktivis inilah yang sepertinya membuat perbincangan mengenai aksi ini meningkat tajam. Di sosial media, perbincangan mengenai hal ini hampir tidak ada hingga media mulai mempublikasikan berita mengenai bentrokan dengan aparat hingga dua mahasiswa dikabarkan menghilang. Artikel yang diterbitkan oleh BBC, Detik, dan CNN yang fokus pada hal tersebut menjadi artikel yang paling banyak dibagikan di Twitter.

Perbincangan di Twitter terkait hari peringatan ini pada tanggal 2 Desember didominasi oleh akun-akun aktivis HAM seperti @pembebasanbdg, @VeronicaKoman, @Cittairlanie, @andreasharsono dan @febrofirdaus. Akun-akun tersebut rata-rata membicarakan tentang penangkapan ratusan mahasiswa Papua dan sikap represif aparat pada para demonstran yang melakukan aksi damai.

@pembebasanbdg: "Saat penangkapan di Asrama Mahasiswa Papua Surabaya semalam, 2 orang non-Papua atas nama Fahri & Arifin bersolidaritas dikabarkan HILANG. Seorang saksi mengatakan saat polisi datang, mereka diseret & dipisahkan dari barisan mahasiswa Papua, & tak ada kabar hingga saat ini. https://t.co/MiHyhU7Iuo" (2/Dec/2018 14:01 WIB, 1.805 retweets, dengan menyertakan foto dan keterangan dari kedua mahasiswa yang dikabarkan hilang)

@VeronicaKoman: "1 Desember 1961: West Papua telah mendeklarasikan kemerdekaannya. Bendera kebangsaan Bintang Kejora pertama kali dikibarkan dan lagu kebangsaan “Hai Tanahku Papua” pertama kali dikumandangkan. Memperingati itu, hari ini terjadi kekerasan terhadap orang Papua di belasan titik: https://t.co/iLQ7SFQi3E" (1/Dec/2018 12:26 WIB, 263 retweets)

@Cittairlanie: "Enggaaaak lah, aku sangat bahagia ketika kebebasan orang tegak. Namun yang patut disayangkan adalah hal ini tidak berlaku setara bagi orang-orang Papua yang mengalami kekerasan dalam Aksi 1 Desember kemarin.. https://t.co/RsbfzapPCi" (2/Dec/2018 13:22 WIB, 155 retweets)

@andreasharsono: "Besok 1 Desember bakal ada mahasiswa Papua kibarkan bendera Bintang Kejora. Mahkamah Konstitusi putuskan pengibaran bendera tsb tak perlu ditangkap, biasanya berlangsung damai. Mari hormati hak mereka berekspresi https://t.co/FM3NNZA5AF https://t.co/6mvNGsS7eZ" (30/Nov/2018 22:22 WIB, 29 retweets)

@febrofirdaus: "KontraS: Aksi menyampaikan pendapat di muka umum adalah Hak kebabasan berpendapat dan berekspresi, yang merupakan hak konstitusional setiap warga Negara Republik Indonesia, tanpa terkecuali mahasiswa Papua >> UUD 1945, Pasal 28e ayat 2 https://t.co/5B2wyp75dW" (2/Dec/2018 15:40 WIB, 20 retweets)

Kontranarasi baru mulai muncul pada tanggal 3 Desember. Perbicangan di akun-akun kontra seperti di akun @Semut_ibrahim_, @Maulana_Tigor dan @aburasyid13 mempersepsi Aksi 1 Desember sebagai usaha makar dan mengkritik Ormas NKRI yang dianggap tidak tanggap.

@Semut_Ibrahim_: "Kemarahan 233 mahasiswa Papua di dalam Polrestabes Surabaya Mana banser & ansor yg katanya mau jg NKRI hrg mati. Ini wilayah loe kan? https://t.co/QHlyso3Yd3" (3/Dec/2018 07:00 WIB, 965 retweets, dengan menyertakan video mahasiswa Papua di dalam Polrestabes)

@Maulana_Tigor: "Ini terjadi di salah satu Ruangan di Polrestabes Surabaya. Para Mahasiswa Papua Yel2 Papua Merdeka. Kategori Makar kah?  Gimana kl yg teriak2 begini Pakaiannya gamis,Jenggotan,bawa Tasbih..?!  Eeee..Ormas Penjaga NKRI mana nih? Surabaya basis mereka kan? #2019GantiPresiden" (3/Dec/2018 16:40 WIB, 395 retweets, menyertakan video yang sama dengan @Semut_Ibrahim_)

@aburasyid13: "Memalukan ! ketika kubu petahana kalap menuduh #ReuniAkbar212 makar, mereka bungkam saat ada unjuk kekuatan mahasiswa Papua Merdeka di Surabaya.  Mahasiswa Papua Teriakkan "Papua Merdeka" dan Pakai Simbol Bintang Kejora di Tengah Kota Surabaya" (1/Dec/2018 10:24 WIB, 342 retweets, dengan menyertakan tautan artikel dari radarpribumi.com)

Jika dilihat dari tagar yang digunakan untuk membicarakan isu ini, dapat terlihat bahwa ada dua kelompok tagar yang banyak digunakan untuk memperbincangkan isu aksi 1 Desmber ini. Kelompok kontra banyak menggunakan tagar #ReuniAkbar212 dan #2019GantiPresiden, sedangkan kelompok pro menggunakan tagar #FreeWestPapua dan #RIPDemokrasi.

Dari SNA juga dapat terlihat bahwa kontranarasi baru membesar pada 3 Desember. Pada SNA 2 Desember masih terlihat didominasi oleh aktivis HAM sebagai key opinion leader yang mengkritisi penangkapan mahasiswa Papua. Key opinion leader yang menanggapi negatif aksi tersebut baru terpusat pada satu akun, yaitu akun @aburasyid13.

ANALISIS

Dari data di atas, dapat dilihat bahwa awalnya isu aksi Mahasiswa Papua ini bukan sesuatu yang mendapat perhatian dari warganet sampai ketika media mulai memberitakan mengenai penangkapan para mahasiswa dari Papua dan aktivis yang dikabarkan menghilang. Begitu berita penangkapan itu tersebar, para aktivis HAM mulai menyuarakan protes tentang kejadian ini.

Pada tanggal 3 Desember muncul kluster baru yang berisi akun-akun yang membawa tagar #ReuniAkbar212 dan #2019GantiPresiden. Isi dari twit mereka sama, yaitu menganggap aksi mahasiswa pada 1 Desember sebagai tindakan makar. Akun @aburasyid13 secara khusus membicarakan mengenai aksi mahasiswa 1 Desember ini sebagai pembanding terhadap isu makar yang ditujukan pada acara Reuni Akbar 212. Bisa dibilang narasi yang dibawa oleh kluster ini terhadap aksi mahasiswa 1 Desember adalah sebagai salah satu usaha untuk mengalihkan tuduhan makar dari acara Reuni 212 sekaligus menjadikan aksi mahasiswa Papua ini sebagai salah satu “masalah” yang digunakan untuk mempromosikan pandangan politik mereka, yaitu #2019GantiPresiden.

Kemudian, meski satu kluster pembicaraan terbentuk dengan membawa insignia salah satu kubu politik, yaitu #2019GantiPresiden yang berkaitan dengan kubu Prabowo, namun akun-akun yang biasanya cenderung berada di kubu Jokowi sebagai petahana dan lawan politik Prabowo tidak terlihat membentuk atau bergabung dalam salah satu kluster yang terbentuk dalam perbincangan ini. Diamnya kelompok petahana seolah memberi isyarat adanya usaha pembiaran atau pengacuhan atas isu ini.

KESIMPULAN

Posisi Papua di dalam dunia politik Indonesia sekarang ini layaknya anak tiri yang berada di persimpangan jalan. Mereka merasa pemerintah tidak memperhatikan mereka seperti saudara lainnya, tetapi ketika berusaha menuntut keadilan atas haknya, mereka malah dianggap sebagai anak durhaka oleh saudara yang juga sama-sama menuntut janji dan keadilan dari pemerintah. Oh, Papua.