Penangkapan Rommy dan Jokowi

Oleh Windo W

Jumat, 15 Maret 2019 bukan hari yang baik buat Rommy, panggilan akrab Romahurmuziy, Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Ia tertangkap dalam operasi tangkap tangan (OTT) oleh KPK di Hotel Bumi, Surabaya, dalam kasus dugaan suap pengisian jabatan di Kementerian Agama.

Sebagai salah satu pendukung pasanggan JKW-MA, Rommy tampak aktif mengkampanye pasangan 01, terutama untuk meningkatkan keterpilihan Jokowi. Drone Emprit (DE) sudah membuat projek untuk memantau bagaimana pemberitaan dan percakapan terkait kasus penangkapan Rommy. Yang ingin diketahui bagaimana peta pemberitaan dan percakapan terkait kasus penangkapan Rommy.

KANAL MEDIA ONLINE (PEMBERITAAN)

Dari grafik pemberitaan terkait Rommy, tampak berita penangkapan OTT Rommy menjadi perhatian media. Seperti terlihat dari tren pemberitaan, pada hari-hari sebelumnya (9 sampai 14 Maret) pemberitaan terhadap Rommy tidak tinggi. Tiba-tiba, melonjak tajam saat munculnya pemberitaan terkait OTT oleh KPK terhadap Rommy pada tanggal 15.

Kita juga dapat lihat beragam media (online) menaikan pemberitaan terkait penangkapan Rommy. Di antara berbagai media yang ada, antaranews.com, wartaekonomi.co.id, timesprobolinggo.com, detik.com. dan akurat.co.id merupakan lima media teratas dari sisi jumlah pemberitaan. Artinya, kita dapat memaknai, baik media mainstream maupun non mainstream sama-sama memiliki perhatian yang tinggi dalam memberitakan isu ini.

Dari Topic Map, ada beragam topik pemberitaan yang muncul. Dari beragam topik pemberitaan tentang Romi, OTT, PPP, Jokowi, Kemenag, Menag, dan Mahfud MD masuk dalam pemberitaan terkait penangkapan Rommy. Jokowi (selain Menag dan Mahfud MD) cukup besar menjadi topik pemberitaan terkait penangkapan Rommy.

Bagaimana Jokowi diberitakan terkait pemberitaan penangkapan Rommy?

Terkait dengan masuknya Jokowi dalam pemberitaan penangkapan Rommy, frame yang terbentuk terbagi dalam dua kutub. Pertama, frame yang menghubungkan penangkapan OTT Rommy dengan tingkat keterpilihan atau elektabilitas Jokowi. Kedua sebaliknya, yang membantah adanya hubungan antara penangkapan Rommy berdampak pada elektabilitas Jokowi.

KANAL MEDIA SOSIAL

Pemantauan percakapan di kanal media sosial dibatasi pada Twitter.

Dilihat dari sisi tren, di kanal percakapan Twitter juga menunjukan pola grafik yang sama dengan di pemberitaan. Percakapan terkait Rommy pada hari-hari sebelumnya tidak tinggi. Tapi, munculnya kabar penangkapan Rommy oleh KPK, mengundang interest netizen (publik). Pada Jumat, 15 Maret 2019, percakapan terkait kabar penangkapan Rommy sangat tinggi, berbeda dengan hari-hari sebelumnya, yang mengindikasikan topik ini mengandung familiritas. Artinya, publik di media sosial memiliki atensi terhadap kabar penangkapan Rommy.

Yang menarik menjadi pertanyaan, bagaimana kubu 02 merespons kasus Rommy?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, kita lihat peta SNA terkait percakapan Rommy. Dari peta SNA, tampak bahwa kubu 02 adalah paling ramai mempercakapkan tentang kasus OTT Rommy. Klaster 01 jauh lebih kecil dibandingnkan klaster 02.

Dari kubu 02, ada yang merespons positif tindakan Jokowi yang tidak melakukan intervensi hukum terhadap kasus hukum. Tentu saja hal itu dapat dibaca sebagai tindakan untuk mengamplifikasi reputasi positif bagi kubu 02 sendiri. Namun, ada pula yang membangun pandangan atau opini bahwa kasus Rommy akan berdampak pada tingkat keterpiliha Jokowi pada Pilpres 2019 sebagai strategi penyerangan untuk melemahkan kubu 01.  

KESIMPULAN

Dari data di atas, ada beberapa poin yang bisa disampaikan.

Pertama, terkait di kanal pemberitaan atau media online. Dengan adanya kenaikan dalam pemberitaan terkait Rommy seperti terlihat di grafik pemberitaan media online, ini menunjukkan bahwa penangkapan Roomy memiliki visibiliatas (tingkat menonjol) di pemberitaan.

Dari sisi subjek pemberitaan, terlihat adanya berbagai subjek pemberitaan yang muncul mengiringi kasus penangkapan Rommy. Di antaranya seperti Kemenag, Menag, PPP, Mahfud hingga Jokowi. Terkait Jokowi, perang perebutan persepsi atau opini ihwal pengaruh penangkapan Rommy terhadap elektabilitas Jokowi adalah paling mencolok. Ada yang mengatakan, ada pengaruh penangkapan Romahurmuziy terhadap elektabilitas, di sisi lain, ada pendapat yang mengatakan tidak ada pengaruh penangkapan Rommy terhadap elektabilitas Jokowi.

Kedua, terkait di kanal percakapan Twitter. Seperti pola tren pemberitaan, tren percakapan juga menunjukan hal serupa. Ada kenaikan drastis percakapan tentang Rommy. Percakapan tersebut terkait dengan penangkapan Rommy oleh KPK dalam operasi tangkap tangan. Ini mengindikasikan, publik atau netizen menaruh perhatian yang besar terhadap kabar tersebut sehingga dipercakapan begitu tinggi.

Di kanal media sosia (Twitter), kubu atau pendukung 02 adalah pihak paling ramai membicarakan kasus Rommi dan mengkaitkan dengan Jokowi. Ada yang mengapresiasi Jokowi yang tidak melakukan intervensi hukum terhadap kasus yang menimpa Romi, ada pula yang menghubungkan hal tersebut dengan dampak pada merosotnya kepercayaan publik terhadap Jokowi (yang akan berimbas pada elektabilitas pada Pilpres mendatang). Terkait dengan apresiasi kubu 02 seperti yang tampak dari twit ustad Haikal, ini juga bisa dibaca sebagai strategi untuk mendapat reputasi positif terhadap posisi lawan yang tidak menguntungkan. Namun, secara garis besar, sentiment yang dibangun oleh kubu 02 adalah negatif (seperti tampak dari warna link di peta SNA).

CLOSING

Masa pencoblosan, 17 April 2019 makin dekat. Dalam kasus penangkapan Rommy dan kontestasi pilpres, jelas posisi Jokowi tidak diuntungkan. Strategi untuk memperkuat persepsi positif terkait Jokowi pasca penangkapan Rommy tentu sangat penting dilakukan oleh tim kampanye kubu 01. Namu, kubu lawan tentu akan terus membangun strategi untuk melemahkan lawan. Perang strategi akan kian panas kita saksikan menjelang detik-detik pencoblosan nanti.