Oleh: Lathif Atmaja dan Hari Ambari

Beberapa waktu lalu, muncul isu adanya tindakan diskriminatif terhadap setengah (disinyalir sebanyak 11 juta jiwa) kaum muslim Uyghur (Xinjiang) oleh pemerintah RRC. Tindakan diskriminatif berupa kewajiban belajar bahasa mandarin;mengubah kepercayaan spiritual; juga penyiksaan fisik dan psikologis di kamp-kamp penahanan.

Atas isu ini, di sisi lain, otoritas RRC membantah terjadinya tindakan tersebut. Dengan alasan, yang ditindak adalah kalangan separatis yang notabene sebagian kecil ditemukan di Uyghur dan warga Muslim Uyghur hanya dididik untuk mendapatkan pelatihan yang dapat menangkal terorisme, ekstrimisme, dan separatisme yang mengancam wilayah tersebut.

Drone Empirt (DE) coba menangkap dinamika wacana isu ini. Data yang diperoleh berdasarkan hasil pemantauan media online dan media sosial (Twitter), dikumpulkan berdasarkan kata kunci: uighur, uyghur, uyghurs, peduliuighur, peduliuyghur, saveuighur, saveuyghur.  Keputusan kata kunci “Uyghur” dan “Uighur”mengikuti hasil eksperimentasi kata kunci di mana netizen dan pemberitaan di Indonesia memakai salah dari dua istilah di atas. Tidak ada filter “should content” dan “should not contain”. Rentang waktu pemantauan 13 Desember hingga 20 Desember 2018. Dari data tersebut, fokus utama dari pembahasan pada tulisan ini adalah bagaimana Indonesia bereaksi, dalam konteks percakapan global, sekaligus konteks pemilu 2019.

Pada bagian kategorisasi DE membuat kategorisasi dari data yang masuk dengan pembagian sebagai berikut:

DATA

Volume dan Tren

Jumlah volume (mentions) pada kasus ini dalam kanal media onlineterdapat 2.417 mentions, sedangkan di media sosial (Twitter) terdapat sekitar lebih dari 88 ribu mentions perbincangan.

Pemberitaan mengenai Muslim Uyghur di RRC selama seminggu terakhir mengalami tren kenaikan yang signifikan hingga puncaknya pada tanggal 19 Desember kemarin dengan 161 pemberitaan.

Di kanal media sosial (Twitter), tren percakapan mengalami tren kenaikan. Kenaikan signifikan terjadi pada tanggal 18 Desember (12.041 mentions) di mana para warganet membincangkan desakan kepada pemerintah untuk membela muslim Uyghur di RRC dan terus mengalami kenaikan tajam hingga saat ini dan mampu menembus lebih dari 33 ribu jumlah perbincangan.

Pola volume perbincangan terkait isu tersebut cenderung ramai saat weekdays yang mencapai puncaknya pada hari Kamis dengan total percakapan mencapai 34.343. Sedangkan pada saat weekend cenderung sepi perbincangan, hanya kurang dari 4.000 metions per harinya.

Pada pola volume perbincangan berdasarkan jam, terlihat tren fluktuatif dalam rentang waktu 24 jam. Dalam hal ini, masyarakat cenderung memperbincangkan isu tersebut pada pagi hari (pukul 4.00-9.00) dan petang hingga malam hari (pukul 18.00-21.00) yang mana terjadi titik puncaknya pada pukul 21.00 dengan jumlah mentions7.364.

Asosiasi Berdasarkan Negara

Dalam kasus ini, RRC adalah negara yang paling banyak dihubungkan dari pemberitaan maupun perbincangan dengan presentase masing-masing 76% dan 81%, sedangkan Indonesia menempati peringkat kedua dengan volume pemberitaan sebanyak 21% dan perbincangan sebanyak 18%. Adapun negara-negara lainnya seperti Turki, Malaysia, dan Amerika tidak terlalu signifikan.

Asosiasi Berdasarkan Lembaga

Selain itu, lembaga-lembaga yang paling banyak diberitakan dan diperbincangkan terkait isu ini adalah MUI dengan presentase sebanyak 39% dan 44%. Selanjutnya ada Lembaga Baznas yang mendapat presentase pemberitaan sebanyak 23% dan presentase volume mentions Twitter sebesar 38%. Sedangkan lembaga-lembaga seperti Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Agama kurang banyak disinggung oleh media maupun masyarakat.

Asosiasi Berdasarkan Tokoh

Selain lembaga-lembaga, terdapat empat tokoh yang paling banyak disinggung media maupun netizen, yaitu: Jokowi (selaku pemegang pemerintahan), Prabowo, Sandiaga Uno, dan Ma’ruf Amin. Jokowi menjadi tokoh yang paling banyak disangkutpautkan dengan isu ini dengan volume presentase pemberitaan sebanyak 76% dan perbincangan sebanyak 74%. Sedangkan Prabowo dan Sandiaga Uno yang merupakan pesaingnya dalam Pilpres 2019 tidak terlalu disinggung oleh media maupun masyarakat. Namun, yang menarik di sini, nama Ma’ruf Amin, yang organisasinya paling banyak disinggung, malah sama sekali diabaikan oleh media maupun masyarakat.

Engagement Type

Berdasarkan engagement type, pola percakapan di media sosial (Twitter), paling menonjol adalah pola retweet, yakni sebanyak 87.78%. Kemudian pola mentions, sebanyak 8,90%, dan terakhir pola reply sebanyak 3.32%. Ini artinya, dalam perbincangan, pola sharelebih dominan ketimbang yang lain.

Topik Pemberitaan

Sikap pemerintah yang dinilai banyak pihak masih cenderung diam dan normatif dalam menghadapi isu muslim Uyghur di RRC tentunya memicu beragam respons. Dalam kasus ini diberitakan bahwa pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri sudah berkoordinasi dengan Perwakilan Kedutaan Besar RRC di Jakarta agar menyelesaikan kasus tersebut. Selain itu, MUI melalui Ketua Dewan Pertimbangan, Din Syamsudin, mengecam tindakan pemerintah RRC tersebut. Di sisi lain, TKN Jokowi-Ma’ruf pun seakan hanya bertindak normatif karena hanya meminta klarifikasi dari kedubes RRC di Jakarta terkait kejadian yang sebenarnya.

Namun, semua itu dinilai belum cukup. Kubu oposisi menilai bahwa pemerintah dinilai tidak berani bertindak tegas karena tersandera utang kepada pemerintah RRC. Tidak cukup sampai di situ, para Alumni 212 juga akan melakukan aksi membela Muslim Uyghur pada Jumat (21/12). Hal ini tentunya menjadi sebuah pertanyaan atas sebuah sikap tegas dari Jokowi dan khususnya Ma’ruf Amin selaku Ketua MUI (non-aktif), yang organisasinya paling banyak disinggung baik oleh media maupun masyarakat, untuk menyatakan suara dan sikap yang tegas ke hadapan publik.

Topik Percakapan

Dari most retweet sejauh yang tertangkap oleh DE, kita bisa lihat topik-topik percakapan apa saja yang muncul terkait isu muslim Uyghur di RRC tersebut.

Topik percakapan yang muncul, di antaranya banyak yang menaruh simpati kepada umat muslim Uyghur di Xinjiang.

@Arie_Kriting: Kita jangan seperti Israel, memperlakukan Palestina Kita jangan seperti Tiongkok, memperlakukan Uighur Kita jangan seperti Burma, memperlakukan Rohingya Kita harus jauh lebih maju dalam memperlakukan kaum minoritas. Karena yang mayoritas di sini adalah Umat Islam. Salam.
19/Dec/2018 17:41 WIB
@alicia_rahmah: Astagfirullah Yaa Allah Lindungi Kaum Muslim/ah & Anak”nya Atas Kekejaman Kaum Komunis China Biadab yg Semua Dunia Tau tp Terdiam..? inilah Pengakuan Wanita Muslimah Uyghur..Betapa Tersayat hatinya Seluruh Wanita dg Keadaan ini.. #SaveMuslimUyghur #SaveMuslimUyghur https://t.co/2mQ1wrZ26u
17/Dec/2018 22:37 WIB
@muhammadiyah: Pernyataan sikap Pimpinan Pusat Muhammadiyah tentang kekerasan di Uighur. #uighur #ppmuhammadiyah #kekerasan https://t.co/HfhCEzqz5g
19/Dec/2018 22:58 WIB

Ada pula percakapan yang mempertanyakan sikap pemerintah.

@ustadtengkuzul: Muslim Uighur di Xinjiang Cina Dianiaya. Eropa, Australia dan Amerika Sudah Mengecam. Indonesia Negara Berpenduduk Muslim Terbesar di Dunia Masih DIAM. Padahal Penguasanya di-KLAIM Sebagai 100 Muslim Paling Berpengaruh di Dunia. Terus Apanya yg BERPENGARUH?Kalau Cuma DIAM? Kerja!
20/Dec/2018 06:04 WIB
@saididu : Jika pemerintah tidak mau atau tekut mengecam pemerintah China thdp perlakuan mereka thdp muslim uighur krn pertimbangan investasi dan utang dari China itu artinya kita sdh tdk merdeka lagi. Semoga tidak demikian
20/Dec/2018 10:33 WIB
@mohmahfudmd: Rasanya penting sekali Pemerintah Indonesia bkn hanya mengatakan prihatin tapi mengutus Tim utk berbicara scr resmi dgn Pemerintah Cina. Waktu kasus Rohingya Kemenlu RI melakukan peran itu dgn cukup baik. Sekarang bisa juga, kan? MuSlim Uighur perlu bantuan perlindungan. https://t.co/8iSsenbtqT
20/Dec/2018 13:04 WIB

Selain itu, dari kubu oposisi juga ramai menyuarakan penyelesaian kasus ini dan mempertanyakan kehadiran Jokowi.

@Ferdinand_Haean: Tidaklah berguna memviralkan video dan foto sbg imam shalat jika tujuannya untuk pencitraan dan kampanye. Saya menunggu presiden @jokowi dan pendukungnya memviralkan pernyataan pak Presiden yang mengutuk Cina dan mendesak Cina berikan kebebasan bg Muslim Uyghur.
19/Dec/2018 18:13 WIB
@maspiyuuu: Pemerintah RI Tak Mau Ikut Campur RRC Terkait Penindasan Terhadap Minoritas Muslim Uyghur https://t.co/xyKqv3n1RI #SaveUyghur #2019GantiPresiden https://t.co/P6jEnw3hmp
18/Dec/2018 07:42 WIB
@BangPino_: Yth pak @jokowi apa komentar anda sbg Tokoh 20 Besar Muslim Berpengaruh didunia ttg perlakuan China terhadap Muslim Uyghur ini pak? Apalagi bpk jd Pemimpin Negara Muslim TERBESAR didunia. Sudahkah bpk berkomentar atau berstatment ttg hal ini? #UsirDubesChina #2019GantiPresiden https://t.co/1CCGTFAfCP
19/Dec/2018 20:47 WIB

Juga ada percakapan-percakapan dari pro-oposisi untuk melakukan aksi.

@FPI_212: AKSI KEPUNG KEDUBES CINA KOMUNIS Jum'at, 21 Desember 2018 Ba'da Shalat Jum'at Bertempat di Kedubes Cina, Jl. Mega Kuningan No. 2, Setia Budi - Jakarta Selatan. #SaveUighur #UsirDubesChina #Aksi2112 Siap Kepung Kedubes China? TAKBIR..!!! https://t.co/pVmjQVeZCb
19/Dec/2018 19:18 WIB
@ustadtengkuzul: Saya Mengundang Saudara Saudara dari Anghora ANSHOR dan Khususnya BANSER utk Ramai Ramai Besok Demo ke Dubes Cina yg Telah Menyiksa Saudara Kita Muslim Uighur... Ini Lebih Penting dari Ucapan Dubes Arab Kemarin. Ditunggu Kedatangan Anda Semua Besok... Allahu Akbar...! https://t.co/NF60tangt1
20/Dec/2018 09:32 WIB

Hastahgs

Beragam tagar muncul dalam percakapan tentang isu Muslim Uyghur. Di antanya adalah: #SaveUyghur, #savemuslimuyghur, #UsirDubesChina, #SaveUighur, #FreeUyghur, #Uyghur, #ChinaTeroris, dan #2019GantiPresiden.

SNA

Pada peta SNA hanya terdapat satu klaster yang mana sangat organik. Di sana sangat riuh dipenuhi perbincangan netizen dan di antara yang berpengaruh adalah akun-akun seperti @Arie_Kriting, @HafizAkbalWMKK, dan @alicia_rahmah yang rata-rata berisi dukungan dan doa untuk kasus ini. Walapun terdapat akun-akun kubu oposisi semisal @maspiyuuu dan @BangPino_turut memeriahkan perbincangan, namun mereka seakan-akan tenggelam karena keriuhan yang sangat padat dalam skema SNA tersebut.

ANALISIS

Dari data yang tersaji, terdapat sejumlah hal yang dapat disampaikan.

Pertama, untuk tren baik pemberitaan maupun perbincangan cenderung mengalami kenaikan yang sangat signifikan. Sampai tulisan ini dibuat, tren tersebut masih berjalan naik.

Selanjutnya, kedua, dari sisi SNA, hanya terdapat satu klaster dalam isu ini yang mana sangat organik dan riuh. Hal ini menunjukkan bahwa atensi masyarakat dalam isu ini sangatlah besar dan dapat dipastikan hampir tidak ada akun robot yang bermain dalam isu ini.

Ketiga, dari topik percakapan, terlihat bahwa sebagian besar mengutuk keras kebijakan pemerintah RRC dalam kasus ini dan dukungan yang mengalir deras kepada umat muslim Uyghur. Di sisi lain, masyarakat juga meragukan peran pemerintah yang dinilai tidak tegas dalam mengambil sikap. Kritikan pedas dilontarkan kepada pemerintah yang dianggap kurang mampu mengatasi hal ini. Tentunya, dalam masa tahun politik seperti sekarang ini, pihak oposisi menilai bahwa ketidaktegasan pemerintah dalam kasus ini terkait utang yang sangat tinggi kepada pemerintah RRC, sehingga pemerintah segan untuk mengambil sikap. Maka dari itu, muncullah gerakan-gerakan khususnya dari FPI dan alumni 212 yang ingin melaksanakan demo aksi bela Uyghur di depan kantor kedutaan besar RRC.

Keempat, ada hal menarik dalam isu ini terkait peran Ma’ruf Amin sebagi ketua MUI (non-aktif) yang mana tidak menyatakan atau menjadi atensi perbincangan, sedangkan di sisi lain, masyarakat banyak sekali yang berharap kepada peran MUI untuk membantu menyelesaikan kasus ini. Selain itu, juga kritikan tajam datang kepada Jokowi selaku pemegang kekuasaan tertinggi.

Terakhir, adu hestek juga mewarnai ranah perbincangan. Seperti yang terlihat, di sela-sela hestek dukungan terhadap muslim Uyghur, terselip hestek #2019gantipreseiden. Hal ini menandakan bahwa ada momentum politik yang dimanfaatkan khususnya oleh pihak oposan melalui isu ini.

CLOSING

Memperhatikan tren untuk kasus muslim Uyghur di RRC mengalami lonjakan yang signifikan baik dari kanal pemberitaan maupun sosial media khususnya Twitter, pemerintah harus menaruh perhatian lebih kepada isu tersebut karena desakan yang dilontarkan oleh warganet rata-rata bahkan sebagian besar berasal dari kubu oposisi. Oleh karena itu, segera untuk diambil tindakan preventif dan juga aksional untuk kasus ini. Misalnya dengan konferensi pers pernyataan simpati pemeritah kepada umat muslim Uyghur dan segera mengirimkan bantuan ke RRC.

Terkait bahwa pemerintah/Jokowi/petahana saat ini sedang dalam masa kampanye dan Ma’ruf Amin sebagai pasangannya, maka dituntut agar lebih aktif dan cekatan dalam menyelesaikan kasus ini agar terkesan tidak menghilang begitu saja.