Oleh: Ismail Fahmi

Kita lihat di sosial media bagaimana publik menyikapi kenaikan dolar yang kemarin sudah mencapai 15.100 rupiah per dolar.

DATA

Dengan kata kunci "rupiah" kita dapatkan tren percakapan yang naik dalam seminggu terakhir, khususnya selepas Asian Games selesai. Puncaknya kemarin tanggal 4 September, ketika rupiah melewati Rp. 15.000/dollar AS.

SNA

Dari peta SNA, untuk data percakapan kemarin saja, tampak hanya ada 1 cluster besar dan satu kecil. Cluster besar itu dari kubu oposisi. Dan yang kecil dari kubu pro petahana.

Rupiah melemah ini tampaknya bukan isu bagi pendukung petahana. Sedangkan bagi oposisi, ini isu yang menarik untuk diangkat.

TOPIK

Dari most retweeted status, paling tinggi ternyata dari salah satu user di cluster petahana. Dia nge-share video penjelasan bahwa Jokowi dan Sri Mulyani sudah bekerja keras menjaga rupiah.

@Je_Ly: Guys.. kita simak ini dulu yuk...� Rame banget di luar ttg kenaikan US$ thd IDR - yg nadanya sbgian besar sinis. Kita belajar sama2 yah � Bagaimana tindakan pemerintah "Presiden @jokowi & ibu Sri Mulyani itu sdh bekerja keras u/ mempertahankan rupiah tak makin terpuruk." https://t.co/5fMaZ1FmBP

Berikutnya yang paling banyak di-share kutipan dari Kwik:

@CNNIndonesia: Kwik Kian Gie Soal Rupiah: Penguasa Tak Paham Praktik Ekonomi https://t.co/1a6MJF8Kh1

Banyak meme yang membandingkan kondisi 1998 dengan 2018. Pesannya jelas, kondisi sekarang jauh lebih baik dan aman. Ada juga potongan tabel dari Bloomberg tenteng vulnerability score, di mana posisi Indonesia di urutan keenam. Turki nomor 1 dan Malaysia nomor 14. Semakin kecil score-nya semakin dekat pada vulnerable.

Selebihnya top tweet lebih banyak dari kubu oposisi.

CLOSING

Apakah rupiah aman? Jika ini masalah bersama, perlu leadership yang bisa menyatukan seluruh elemen bangsa. Jangan biarkan pro kontra diserahkan kepada buzzer. Mereka nature-nya saling menjatuhkan. Buzzer tidak bisa menyatukan bangsa. Leadership bagi semua komponen yang dibutuhkan. Yang tidak dipolitisasi. Mengambil kredit kalau berhasil, atau sebaliknya menjatuhkan kalau gagal.

Berapapun naiknya dolar, jika kita tak banyak tergantung impor, bisa swasembada, UKM banyak dan kuat, bikin tempe dari kedelai lokal, insyaallah kenaikan itu tak masalah. Kalau banyak impornya, ntar harga tempe naik.