SENTIMEN PUBLIK TERHADAP KETEGANGAN INTERNASIONAL DAN SIKAP INDONESIA

2026 dibuka dengan ketegangan di Venezuela, Iran, hingga Greenland. Bagaimana posisi Indonesia? Kami membedah data percakapan publik untuk melihat arah sentimen kita.

By DE (@ismailfahmi)

Aksi militer AS di Venezuela, eskalasi Iran, hingga ambisi Trump atas Greenland memicu respons keras. Pemerintah Indonesia menyerukan de-eskalasi sambil menjaga prinsip bebas aktif. Namun, publik cemas: apakah sikap ini cukup tegas menjaga kepentingan nasional.

Bagaimana metode kami membedah jutaan opini ini?

Kami menyaring percakapan pada 3-21 Januari 2026 di X, FB, IG, TikTok, hingga berita online. Dengan kata kunci spesifik seperti "Venezuela", "Greenland", hingga "Rupiah", kami memetakan arah sentimen dan tren diskusi publik di tengah gejolak ini.

Seperti apa ringkasan besar dari analisis data tersebut?

Dari 37.400 mentions, mayoritas sentimen cenderung netral. Namun, polarisasi terjadi: sebagian percaya pada diplomasi RI dan keamanan aset, sebagian lain mengkritik Kemlu "macan ompong" dan cemas rupiah anjlok akibat efek domino ketegangan global.

Apa temuan spesifik soal kritik terhadap diplomasi kita?

Publik menilai respons Kemlu terlalu normatif soal Venezuela. Muncul ketakutan kolektif: kekayaan SDA (Nikel) Indonesia bisa memicu invasi serupa. Skeptisisme terhadap hukum internasional menguat, publik merasa kedaulatan negara non-nuklir makin rentan.

Bagaimana dampak geopolitik ini memukul psikologis ekonomi warga?

Pelemahan Rupiah dipersepsikan sebagai sinyal bahaya krisis. Uniknya, kepanikan ini diredam lewat dark jokes satire. Di sisi lain, langkah RI masuk Dewan Perdamaian bentukan AS justru dinilai kontradiktif dan mencederai posisi netral Indonesia.

Apa kata para tokoh dan pejabat soal situasi genting ini?

Menlu Sugiono dan Menteri Pigai menekankan hak kedaulatan Venezuela. SBY memperingatkan PBB agar tidak doing nothing mencegah PD III. Sementara DPR menyebut kasus Venezuela sebagai alarm keras bagi prinsip non-intervensi global.

Bagaimana pandangan pakar ekonomi dan pengamat lainnya?

Menkeu Purbaya menyoroti anomali pasar saham di tengah perang. Sebaliknya, Dino Patti Djalal mengkritik keras sikap sungkan Kemlu. Pengamat HI menilai ambisi AS di Greenland bukti hukum internasional makin tersisih oleh politik kekuatan.

Apa kesimpulan utama dari tarik-menarik opini ini?

Intinya: Publik kecewa pada diplomasi cari aman. Fokus ketakutan bergeser dari perang fisik ke kerentanan ekonomi Rupiah. Satire menjadi tameng warga menghadapi kecemasan invasi SDA, sementara label macan ompong melekat pada respons pemerintah.

Seberapa besar volume percakapan yang terjadi?

Isu ini meledak dengan total 58.418 mentions dan interaksi fantastis mencapai 292 juta lebih. Angka ini menunjukkan betapa tingginya atensi dan kekhawatiran warga +62 terhadap ketegangan global yang menyeret nama Indonesia.

Kapan puncak pembicaraan ini terjadi?

Percakapan medsos memuncak 4 Januari saat motif penangkapan Maduro dibahas panas. Media menyusul memuncak 5 Januari, menyoroti pelanggaran kedaulatan dan pernyataan hukum dunia aneh dari Menkeu RI menanggapi situasi global.

Siapa saja kelompok yang paling bising membicarakan ini di X?

Netizen terbelah 4: Publik Umum fokus narasi pencurian SDA, Akun Kritis menyerang Menlu pasif & isu Pro-China, Pengamat Keuangan sibuk pantau emas/rupiah, sementara Akun Media fokus memberitakan fakta lapangan dan update konflik.

Bagaimana pola hubungan antar kelompok pembicara ini?

Terbentuk 4 klaster: Media (Netral), Publik Kritis (Sentimen negatif ke pemerintah), Publik Umum (Anti-intervensi AS & Sejarah), serta Pengamat Keuangan (Dampak pasar). Masing-masing punya influencer kunci yang menyetir opini pengikutnya.

Bagaimana sentimen spesifik di platform X dan Threads?

Di X, sentimen negatif menyoroti Kemlu macan ompong dan isu budak China. Di Threads, kecemasan lebih dominan: pengguna takut Indonesia bernasib sama seperti Venezuela jika salah langkah dalam berdiplomasi.

Apakah pengguna Facebook dan Instagram punya pandangan berbeda?

Facebook lebih positif, lega aset minyak RI di Venezuela aman. Instagram juga suportif pada peran damai PBB, meski tetap ada ketakutan akan pecahnya Perang Dunia III yang mendominasi kolom komentar.

Bagaimana reaksi visual di YouTube dan TikTok?

YouTube mengapresiasi sikap Prabowo menentang AS keluar PBB. Di TikTok, potongan video Menkeu soal hukum dunia aneh viral, memicu diskusi edukatif sekaligus kecemasan netizen soal melemahnya nilai tukar rupiah.

Bagaimana media online membingkai isu ini?

Pemberitaan media cukup berimbang. Sisi positif menyoroti keamanan aset negara dan optimisme MenHAM. Sisi negatif lebih banyak mengulas potensi dampak ekonomi dan tekanan agar Indonesia lebih aktif meredakan ketegangan.

Emosi apa yang paling dominan dirasakan netizen?

Anticipation tinggi karena takut dampak ekonomi. Surprise muncul karena syok negara berdaulat bisa diinvasi. Uniknya, Joy muncul bukan karena senang perang, tapi lewat dark jokes menyindir situasi global yang makin gila.

Isu spesifik apa yang paling memicu emosi tersebut?

Tiga isu teratas: 1) Tudingan motif minyak di balik penangkapan Maduro, 2) Kritik diplomasi RI yang dianggap hilang suara, 3) Lonjakan harga emas dan jatuhnya Rupiah yang bikin warga membandingkannya dengan krisis Iran.

Adakah isu domestik yang terseret ke ranah global ini?

Isu pajak baja China dikaitkan dengan risiko intervensi asing. Ambisi Trump atas Greenland dan pembentukan Dewan Perdamaian tandingan dianggap sinyal kembalinya hukum rimba internasional yang mengancam negara berkembang.

Siapa akun paling berpengaruh yang menyuarakan ini di X?

Peta influencer di X dikuasai akun publik umum dan information aggregator. Akun kritis seperti @TheEagle_Ben juga vokal, bersanding dengan akun pemerhati geopolitik seperti @dina_sulaeman yang aktif memberi konteks.

Siapa saja deretan 10 besar akun tersebut secara detail?

@SoftWarNews memimpin interaksi dengan update konflik. @dina_sulaeman dan @NenkMonica menyusul dengan analisis kritis. Media besar seperti Kompas dan Detik justru berada di urutan bawah dalam engagement di platform X.

Bagaimana peta pengaruh di Facebook?

Di Facebook, akun berita dan informasi militer mendominasi. BBC News Indonesia dan halaman Info Media Dunia menjadi rujukan utama warga +62 mencari update situasi Venezuela, Iran, dan aksi militer global.

Siapa yang merajai interaksi di Instagram?

Berbeda dengan X, Instagram dikuasai media arus utama. BBC, CNN, dan Kumparan memegang kendali narasi visual. Akun fakta seperti @FYI_Fact juga turut menyumbang interaksi tinggi lewat infografis ringkas.

Channel mana yang paling banyak ditonton di YouTube?

Tribunnews dan Kompas mendominasi tayangan video berita. Namun, Youtuber opini seperti @Bennix masuk 5 besar dengan narasi kritis soal ancaman terhadap Greenland dan pertanyaan: Indonesia Selanjutnya?

Siapa yang viral di TikTok membahas isu ini?

iNews memimpin, disusul akun berita daerah. Menariknya, kreator edukasi seperti @geraldvincentt masuk jajaran top influencer, menjelaskan konteks hukum internasional dan posisi AS dengan bahasa yang mudah dicerna Gen Z.

Bagaimana dengan platform Threads yang lebih tekstual?

Di Threads, diskusi lebih niche. Akun personal seperti Ahmad Faezal memimpin diskusi soal istilah penculikan Maduro. Interaksi di sini lebih fokus pada opini personal dan perbandingan sejarah ekonomi masa lalu.

Cuitan spesifik apa yang paling banyak dibagikan di X?

Cuitan Dina Sulaeman soal motif mencuri emas/litium jadi yang paling viral. Narasi soal standar ganda AS di Gaza vs Iran dan isu pajak perusahaan China juga masif disebarkan ulang oleh netizen X.

Apa lagi narasi viral lainnya di X?

Satire juara: @TomketLovers berkelakar BBM oplosan menyelamatkan RI dari invasi AS. Di sisi lain, laporan perang Iran dan narasi penculikan presiden Venezuela mendapat atensi serius dan keprihatinan mendalam.

Adakah cuitan kontroversial yang juga viral?

Kritik keras muncul: tudingan gadai negara ke China demi utang kereta cepat viral di slide ini. Video penangkapan Maduro oleh DEA juga banyak dibagikan sebagai bukti visual arogansi polisi dunia.

Apa saja narasi penutup yang ramai di X?

Akun FiksiBerfakta membuat checklist perang yang mengerikan. Dina Sulaeman mengingatkan sejarah kebohongan AS (kasus Nayirah). Desmond Wira memperingatkan investor: siap-siap harga emas terbang tinggi

Bagaimana dengan cuitan soal pemimpin dunia?

Pertanyaan retoris viral: Hak istimewa apa yang dimiliki AS? Selain itu, data usia pemimpin dunia dan laporan adanya WNI jadi tentara bayaran di Ukraina turut mencuri perhatian dan menjadi perbincangan panas.

Status Facebook seperti apa yang paling banyak disukai?

Penjelasan kronologis BBC soal penangkapan Maduro panen likes. Berita latihan militer BRICS dan kecaman Rusia-China terhadap AS juga sangat disukai pengguna Facebook yang cenderung anti-intervensi.

Konten visual apa yang meledak di Instagram?

Infografis cadangan minyak Venezuela dari @FYI_Fact paling disukai, mengonfirmasi kecurigaan publik soal motif ekonomi. Foto dramatis Maduro di kapal perang AS rilisan BBC juga viral memicu diskusi visual.

Video apa yang paling banyak ditonton di YouTube?

Tribunnews memimpin dengan isu China-Rusia. Namun, video opini @Bennix berjudul Setelah Venezuela Hancur, Selanjutnya Indonesia? sukses memantik ratusan ribu views karena relevansi ketakutan lokal akan invasi.

Apa tren video pendek di TikTok soal isu ini?

Video kehancuran mata uang Rial Iran (1,4 juta per USD) viral, menjadi visualisasi horor ekonomi bagi netizen +62. Laporan iNews soal pasukan NATO mendarat di Greenland juga meraup jutaan views.

Bagaimana diskusi mendalam terjadi di Threads?

Diskusi di Threads lebih kontemplatif. Ahmad Faezal menyebut penculikan, bukan penangkapan. Ada juga debat serius soal dampak ekonomi masa SBY vs sekarang di tengah gejolak global yang tak menentu.

Kata kunci apa yang paling sering muncul dalam percakapan?

Iran, Rudal, dan Perang mendominasi awan kata, menunjukkan fokus publik pada aspek militer. Kata Indonesia yang besar menandakan publik aktif menarik benang merah konflik luar ke dalam dampak domestik.

Tagar apa yang digunakan untuk mengelompokkan percakapan ini?

Tagar #NepalkanGengSolo mencuat sebagai kritik politik domestik di tengah isu global. Tagar #Iran dan #Khamenei digunakan sebagai simbol solidaritas blok anti-Barat dalam menghadapi hegemoni AS.

Media mana yang paling rajin memberitakan isu ini?

Media arus utama masih menjadi sumber informasi primer. Antaranews, Kompas, dan CNBC Indonesia paling gencar memproduksi artikel, memadukan update perang lapangan dengan analisis dampak ekonomi bagi RI.

Apa topik spesifik yang paling sering diangkat media?

Lima topik utama: Iran, Trump, Greenland, AS, Venezuela. Media membingkai ini dari dua angle besar: aksi agresif AS (pelanggaran hukum internasional) dan dampak domestik (Rupiah yang terus melemah).

Seperti apa contoh pemberitaan bernada positif?

Sisi positif diwakili oleh penegasan Jubir Kemlu soal prinsip bebas aktif yang konsisten dan analisis Prof. Hikmahanto yang menilai posisi netral Prabowo justru melegitimasi peran mediator Indonesia di mata dunia.

Dan bagaimana dengan pemberitaan yang bernada negatif?

Berita negatif didominasi kritik Dino Patti Djalal yang menyayangkan sikap standar Kemlu yang kurang menggigit. Analis pasar juga menyumbang tone negatif lewat peringatan instabilitas Rupiah yang mengancam ekonomi warga.

Link: https://x.com/DroneEmpritOffc/status/2014291610411127081