SENTIMEN PUBLIK TERHADAP TUNTUTAN KENAIKAN KESEJAHTERAAN GURU

Isu kesejahteraan guru kembali memanas. Sorotan tertuju pada ketimpangan nasib antara guru honorer dan pegawai program baru MBG. 

Bagaimana publik menanggapi polemik ini? 

Simak analisis datanya. 

By DE (@ismailfahmi)

Program MBG dengan kebijakan pengangkatan pegawai SPPG menjadi PPPK memicu reaksi. Publik membandingkan akselerasi ini dengan nasib guru honorer yang lambat. Ketimpangan ini melahirkan persepsi ketidakadilan soal prioritas anggaran. 

Bagaimana metode analisisnya? 

Analisis dilakukan pada 13–28 Januari 2026 di berbagai platform medsos dan media online. Fokus pada isu kesejahteraan guru dan status kepegawaian dengan kata kunci seputar Guru, SPPG, PPPK, hingga MBG untuk memetakan tren. 

Bagaimana ringkasan hasil pemantauannya?

Isu ini mendulang 26 ribu lebih mentions di medsos. Sentimen positif (pro-guru) mendominasi mutlak di angka 89,6%, menuntut keadilan gaji dan kepastian hukum. Sebaliknya, sentimen negatif cenderung membela posisi pemerintah. 

Apa temuan utama dari data tersebut? 

Tiga temuan awal: 

1) Dominasi sentimen pro-guru sebagai simbol perlawanan. 

2) Persepsi ketidakadilan akibat disparitas "jalur karpet merah" pegawai SPPG vs guru. 

3) Kritik keras penggunaan anggaran pendidikan untuk MBG. 

Apa temuan penting lainnya? 

Temuan selanjutnya menyoroti inkonsistensi pemerintah soal tanggung jawab pegawai non-ASN, degradasi profesi melalui skema "PPPK Paruh Waktu" yang jomplang dengan pegawai MBG, hingga krisis kepercayaan publik terhadap prioritas pusat. 

Bagaimana pendapat tokoh terkait hal ini?

Pihak BGN dan DPR tegaskan pengangkatan PPPK hanya posisi inti via tes CAT. Mendikdasmen janjikan insentif, sementara Ferry Irwandi menekankan bahwa gaji honorer adalah ranah Pemda, bukan sepenuhnya kesalahan pusat. 

Bagaimana pandangan tokoh yang kontra? 

Pengamat dan asosiasi guru mengkritik keras. Mereka menilai kebijakan ini melukai perasaan guru honorer yang berjuang puluhan tahun. Anggaran MBG dinilai mengambil jatah pendidikan, dan proses instan ini mencederai tata kelola. 

Apa kesimpulan dari analisis ini? 

Solidaritas publik terbentuk melawan normalisasi gaji rendah guru vs privilese pegawai MBG. Inkonsistensi tanggung jawab negara dan penggunaan anggaran pendidikan untuk MBG memicu krisis kepercayaan terhadap prioritas pembangunan SDM. 

Seberapa besar volume interaksinya? 

Isu ini menarik perhatian masif dengan total lebih dari 30 ribu mentions dan menghasilkan interaksi luar biasa mencapai 65 juta engagement. Angka ini menunjukkan betapa sensitif dan tingginya atensi publik terhadap nasib guru honorer. 

Kapan puncak percakapan terjadi? 

Puncak percakapan terjadi pada 21 Januari 2026. Pemicunya adalah pemberitaan kepastian pengangkatan 32.000 pegawai SPPG menjadi PPPK. Netizen ramai membandingkan gaji tinggi pegawai program baru tersebut dengan upah minim guru honorer. 

Bagaimana peta narasi netizen di X?

Terbagi menjadi 4 klaster. Narasi Pro-Guru mendominasi dengan kritik tajam soal gaji dan anggaran. Publik Umum mendorong solusi adil. Media fokus pada data dan aksi, sementara kubu Pro-MBG membela lewat argumen seleksi kompetensi. 

Siapa saja pemengaruh dalam jaringan ini?

Peta jejaring sosial memperlihatkan aktor kunci di tiap klaster. Kelompok Pro-Guru dipimpin akun aktivis vokal. Media mainstream menjadi rujukan data. Sementara akun Pro-PPPK MBG cenderung defensif menjelaskan regulasi dan wewenang pemda. 

Bagaimana sentimen di X dan Threads? 

Di Twitter/X, 90,2% sentimen positif mendukung guru, menolak pengalihan dana pendidikan ke MBG. Threads menunjukkan pola serupa, mendesak pemerintah fokus pada investasi SDM dan kompetensi daripada mempolitisasi nasib honorer.

Bagaimana dengan Facebook dan Instagram? 

Facebook mencatat 66,2% dukungan untuk pemerataan gaji guru, meski ada kontra soal legalitas Perpres MBG. Instagram lebih vokal (78,5%) menyoroti urgensi standar gaji layak dan menolak ketimpangan perlakuan pegawai inti MBG dan guru. 

Bagaimana respon di YouTube dan TikTok?

Platform berbasis video didominasi dukungan visual aksi demo dan gugatan MK. TikTok dan YouTube menjadi wadah solidaritas, menolak "karpet merah" bagi PPPK MBG. Sentimen negatif hanya berkisar 13-20%, fokus pada validasi prosedur resmi. 

Bagaimana media online memberitakannya?

Media online mayoritas (62%) membingkai isu ini sebagai perjuangan keadilan guru honorer dan dukungan gugatan ke MK. Pemberitaan negatif minim (3%), umumnya berisi klaim pemerintah bahwa gaji guru kecil adalah tanggung jawab daerah. 

Emosi apa yang paling dominan muncul?

Emosi "Sadness" mendominasi, dipicu keprihatinan atas nasib guru yang rentan. "Anticipation" muncul menunggu realisasi janji. "Joy" di sini bermakna solidaritas dukungan publik, namun juga ironi kekecewaan atas prioritas "perut vs pendidikan". 

Apa isu utama yang paling disorot?

Tiga isu teratas: 

1) Ketimpangan kecepatan pengangkatan ASN antara program baru MBG vs guru lama. 

2) Gap gaji yang mencolok (jutaan vs ratusan ribu). 

3) Polemik status PPPK Paruh Waktu bagi guru yang dinilai menurunkan martabat profesi. 

Apa isu krusial lainnya?

Isu krusial lainnya mencakup inkonsistensi regulasi pegawai mitra swasta, kritik keras prioritas anggaran MBG yang memangkas dana pendidikan, serta debat panas mengenai siapa yang bertanggung jawab atas gaji guru: Pusat atau Daerah? 

Siapa akun paling berpengaruh di X?

Lanskap influencer di X dikuasai oleh akun-akun Pro-Guru Honorer, Aktivis Pendidikan, dan Akun Base. Mereka menjadi motor penggerak narasi perlawanan dan solidaritas, mengalahkan dominasi akun resmi pemerintah atau pendukung kebijakan. 

Siapa saja akun-akun tersebut? 

Daftar akun paling vokal termasuk aktivis pendidikan dan publik pro-guru honorer yang konsisten mengawal isu. Akun base turut memperkuat amplifikasi isu, didukung media massa besar yang memberikan update data terkini. 

Siapa yang mendominasi di Facebook?

Di Facebook, akun personal dan halaman komunitas seperti Viral Berita dan Pojokjabar mendominasi interaksi dengan sentimen positif (pro-guru). Konten mereka banyak dibagikan ulang, memicu diskusi luas di kalangan pengguna umum. 

Siapa tokoh utama di Instagram? 

Watchdoc Documentary memimpin pengaruh dengan konten dokumenter yang menggugah emosi. Akun-akun seperti Moncong Publik dan influencer politik turut memanaskan diskusi visual mengenai ketimpangan kebijakan ini. 

Bagaimana dengan YouTube?

YouTuber seperti SebutSaja Dayat dan MAYA TUBE mendapatkan views tinggi dengan video ulasan perbandingan gaji. Konten visual yang membandingkan langsung "Guru vs MBG" sangat efektif menarik atensi penonton di platform ini. 

Siapa yang viral di TikTok? 

Akun berita dan media seperti Solopos, Kumparan, dan Pojokseleb merajai TikTok dengan potongan video RDP DPR dan konten yang menyandingkan nasib guru honorer dengan pegawai baru MBG. 

Bagaimana diskusi di Threads?

Diskusi di Threads lebih berbasis teks dan opini tajam. Akun seperti arumd.pr dan Kabar Mahasiswa Indonesia memicu percakapan mendalam tentang ironi kebijakan, dengan fokus pada kritik terhadap prioritas anggaran negara. 

Unggahan mana yang paling viral di X?

Cuitan Iman Zanatul Haeri menjadi yang paling banyak dibagikan, menyoroti ironi guru honorer yang menangis melihat SK PPPK Paruh Waktu, sementara pegawai dapur MBG langsung mendapat karpet merah ASN dengan gaji standar layak. 

Apa cuitan viral lainnya? 

Kemarahan publik terekam dalam cuitan _anopheles yang tidak ridho dana pendidikan dialihkan. Akun RagilSemar juga viral dengan data bahwa anggaran MBG memotong 223 Triliun dana pendidikan, sebuah angka yang fantastis. 

Adakah cuitan lain yang signifikan? 

Akun blank0429 menagih janji tambahan gaji guru 2 juta yang belum tunai. Sementara senogp menyuarakan ketidakadilan guru honorer yang kalah sekejap mata oleh pegawai proyek MBG. Janji politik vs realita lapangan jadi sorotan.

Bagaimana opini netizen lainnya?

Akun patillele4364 mempertanyakan kepemimpinan yang mengambil dana pendidikan untuk makan siang. 

Di sisi lain, yaniarsim melakukan "unboxing" perbandingan gaji pegawai MBG dan guru honorer yang sangat timpang. Berita apa yang paling banyak dibagikan?

Berita Kompas.com mengenai gugatan mahasiswa dan guru honorer ke Mahkamah Konstitusi terkait anggaran MBG dalam dana pendidikan menjadi viral. Ini menandakan dukungan publik terhadap jalur hukum untuk melawan kebijakan ini. 

Status apa yang viral di Facebook?

Status yang paling banyak disukai berisi ungkapan penyesalan mendalam dari pendukung pemerintah. Poin utamanya adalah kekecewaan karena "perut kenyang" lebih dipentingkan daripada kualitas pendidikan dan nasib guru honorer. 

Bagaimana dengan konten di Instagram? 

Unggahan Watchdoc menjadi juara interaksi. Narasi "Negara Cepat Mengangkat, Siapa yang Lama Mengabdi?" yang membandingkan 32.000 pegawai baru MBG dengan Pak Agustinus, guru honorer di NTT, sukses memantik simpati publik. 

Video apa yang trending di YouTube?

Video dari kanal SebutSaja Dayat berjudul "Guru honorer jadi supir MBG" mendulang penonton terbanyak. Konten satir yang menggambarkan realita pahit guru yang banting setir demi gaji layak ini sangat relevan dengan keresahan publik. 

Bagaimana tren di TikTok? 

Video Solopos yang menampilkan kritik Anggota DPR Edy Wuryanto menjadi yang paling banyak ditonton. Pernyataannya yang menyoroti ketidakadilan gaji sopir MBG vs guru honorer yang telah lama mengabdi, mewakili suara hati netizen. 

Apa yang ramai dibahas di Threads?

Utas dari arumd.pr yang menyebut kebijakan ini sebagai "munafik parah" mendapat respon tertinggi. Ia menyoroti kontradiksi narasi SDM rendah dengan pemotongan anggaran pendidikan untuk program gimmick makan siang. 

Kata apa yang sering muncul di X?

Kata "honorer", "pemerintah", dan "yayasan" mendominasi percakapan. Ini mencerminkan fokus publik pada status kepegawaian yang tidak pasti dan kekecewaan terhadap pemerintah yang melempar tanggung jawab ke yayasan/pemda. 

Tagar apa yang digunakan netizen?

Tagar #AntiKritik dan #Guru menjadi simbol perlawanan digital. Netizen menggunakan tagar ini untuk menyatukan suara menolak "jalur ekspres" pegawai MBG dan mengkritik pemotongan anggaran pendidikan yang masif. 

Situs mana yang paling aktif memberitakan? 

Media mainstream seperti JPNN dan Tempo bersanding dengan media substream/regional dalam memberitakan isu ini. Tingginya volume berita dari berbagai level media menunjukkan isu ini bukan hanya isu elite, tapi juga isu akar rumput. 

Topik apa yang jadi fokus berita?

Fokus pemberitaan terpusat pada kata kunci PPPK, SPPG, dan Guru. Media secara konsisten mengangkat angle kecemburuan sosial dan kritik keras terhadap penggunaan anggaran pendidikan untuk menggaji pegawai mitra swasta. 

Bagaimana contoh pemberitaan positif?

Anggota DPR Selly Gantina dan Koordinator JPPI Ubaid Matraji menjadi suara vokal yang dikutip media. Mereka tegaskan anggaran ratusan triliun tak boleh menutup mata terhadap guru bergaji Rp200 ribu dan penyimpangan konstitusi. 

Bagaimana pemberitaan negatif? 

Ferry Irwandi dikutip sebagai representasi pandangan kontra/negatif. Ia menekankan bahwa masalah gaji guru honorer adalah wewenang daerah, bukan pusat. Pernyataan ini menjadi antitesis dari tuntutan publik yang meminta intervensi pusat.

Link: https://x.com/DroneEmpritOffc/status/2017058973845954879