Oleh: Ismail Fahmi

Ada analisis menarik tentang cyber troop paslon pilpres dari GDILab. Dan saya kira ini penting untuk semakin banyak analisis berbasis data seperti yang dilakukan GDILab, karena akan membuat publik bisa melihat peta pertempuran cyber secara lebih komprehensif.

DATA

Saya tidak tahu kanal media sosial apa yang digunakan oleh GDILab, apakah FB, Twitter, IG atau yang lain. Di artikel tidak disebutkan. Namun disebut di sana variabel 'retweet', jadi kemungkinan besar GDILab juga menggunakan Twitter sebagai sumber.

Data Drone Emprit (DE) di bawah ini dibuat beberapa waktu lalu, sebagai bahan wawancara dengan Reuters, dari 6 November s.d. 6 Desember 2018. DE hanya bisa menangkap  percakapan lebih lengkap di Twitter. FB (Facebook) hanya sampling beberapa FB page media online, group, dan tokoh-tokoh. IG (Instagram) berdasarkan API search hashtags.

DE menggunakan dua hashtags yang berbeda, yang diharapkan secara ekslusif digunakan oleh masing-masing kubu, dan menjadi andalan mereka, yaitu #2019GantiPresiden dan #01IndonesiaMaju. Menurut data DE, #01JokowiLagi masih kalah populer dibanding #01IndonesiaMaju.

Untuk membandingkan kedua kubu, DE menggunakan kata kunci yang umum yaitu 'buku'. Percakapan tentang buku relatif umum, asalkan di luar periode isu 'buku merah'.

SLIDE

Data DE ini bisa didownload juga di slideshare:

https://www.slideshare.net/…/robots-in-jokowi-and-prabowo-c…

EXECUTIVE SUMMARY

Berikut ini executive summary perbandingan temuan DE dan GDILab.

DE dan GDILab sama-sama menemukan bahwa konten postingan dari kubu Jokowi sangat benyak tentang program dan capaian pembangunan oleh pemerintahan Jokowi selama ini. Sedangkan dari kubu Prabowo, lebih banyak berupa isu-isu tertentu yang kemudian diviralkan secara bersama-sama  oleh pasukan cyber mereka, dan masih miskin program dan gagasan.

DE dan GDI Lab sama-sama menemukan bahwa pada kubu Jokowi lebih banyak status baru, sedangkan pada kubu Prabowo lebih banyak retweet.

GDILab menemukan lebih pada kubu Prabowo lebih banyak akun mencurigakan atau abal-abal (kurang 50 follower). Sebaliknya Drone Emprit menemukan  total 37.1% user dengan kurang dari 50 follower pada kubu Prabowo, dan total 46.6% pada kubu Jokowi.

Dari sisi jumlah postingan berdasarkan follower, Drone Emprit menemukan lebih banyak postingan baru yang dibuat oleh kubu Jokowi oleh user dengan follower kurang dari 50. Sedangkan pada kubu Prabowo lebih banyak postingan pada user dengan 100 lebih follower.

GDILab menemukan bahwa interaksi pada kubu Jokowi lebih baik dibandingkan pada kubu Prabowo. Sebaliknya, DE menemukan dari pola engagement bahwa pada kubu Jokowi cenderung lebih banyak twit baru dibanding retweet, artinya banyak twit tidak mendaptkan engagement. Sementara pada kubu Prabowo, cenderung lebih sedikit twit dengan lebih banyak retweet, artinya banyak twit yang di-retweet atau di-engage.

Dibandingkan dengan pola pada percakapan tentang 'buku', DE menyimpulkan bahwa percakapan #2019GantiPresiden lebih mendekati pola percakapan natural pada 'buku', sedangkan pada #01IndonesiaMaju sangat berbeda patternnya.

*GDI LAB

Dari data GDILab di CNNIndonesia.

https://www.cnnindonesia.com/…/pendukung-prabowo-di-medsos-…

"Dapat diindikasikan perilaku di kluster paslon Prabowo-Sandi terindikasi cyber troops, sementara kluster pendukung paslon  Jokowi-Ma'ruf terindikasi dukungan individu," kata Chief Business dan  co-founder GDILab Jeffry Dinomo alias Uje, dalam ForuMedsoSehat, di  Jakarta, Minggu (16/12).

Itu didasarkan atas tiga hal.

Pertama, perbandingan jumlah konten unggahan orisinal dan bukan unggahan ulang atau retweet.

Dari hasil analisis pihaknya, pendukung Jokowi-Ma'ruf memiliki 14,7  persen konten orisinal yang berisi program kerja yang sudah dan akan dikerjakan jika terpilih lagi. Misalnya, soal pengoperasian tol Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi).

Kedua, koordinasi yang baik dalam isu tertentu. Uje berpendapat konten yang dihasilkan kubu Prabowo-Sandi lebih terkoordinasi dengan baik. Namun secara interaksi, konten pendukung Jokowi dinilai lebih baik.

Ketiga, jumlah akun dengan perilaku mencurigakan atau suspicious behaviour yang lebih besar di kubu Prabowo. Hal ini diindikasikan dengan cukup banyaknya partisipan alias pendukung yang berasal dari akun-akun dengan jumlah follower di bawah 50 dan usia akun di bawah 6 bulan.

"Kalau ada konsultan atau  enggak, saya tidak tahu, tapi yang pasti itu memang terpusat. Kita enggak sampai membedah siapa mastermind," tutupnya.